DAMPAK MODERNISASI TERHADAP HUBUNGAN KEKERABATAN DAERAH SUMATERA UTARA

Pengarang: 

DRS. S.P. NAPITUPULU

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Tahun Terbit: 

1986

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Utara
Rak: 

2.3(300-31

DAMPAK MODERNISASI TERHADAP HUBUNGAN KEKERABATAN DAERAH SUMATERA UTARA
Dari segi sosial budayanya, daerah Sumatera Utara dibagi ke dalam 3 suku Bangsa, yaitu : Batak, Melayu, dan Nias. Suku bangsa Batak terdiri dari beberapa sub suku bangsa yaitu : Toba, Simalungun, Karo, Pak-Pak Dairi, Mandailing, dan Angkola. Dalam penelitian dampak Modernisasi Terhadap Hubungan Kekerabatan, maka yang menjadi sasaran penelitian adalah suku bangsa Batak Toba, karena pada kenyataan bahwa sub suku bangsa Batak Toba termasuk sub suku terbesar di Sumatera Utara. Selain itu penduduknya menyebar ke seluruh pelosok Sumatera Utara, bahkan ke luar Propinsi lain. Di beberapa kota tertentu di Sumatera Utara, sub suku bangsa ini sampai-sampai mendesak suku bangsa aslinya, misalnya di Pematang Siantar penduduk aslinya Simalungun terdesak, demikian juga di Medan suku bangsa Melayu yang merupakan penduduk asli kota Medan semasin terdesak. Pergeseran kedudukan dan peranan suami dalam lingkungan keluarga yaitu : 1. Pergeseran Kedudukan Suami 2. Pergeseran Peranan Suami 3. Pergeseran Orientasi terhadap Kerabat. Pergeseran kedudukan dan peranan istri dalam lingkungan keluarga, yaitu : 1. Pergeseran Kedudukan Istri 2. Pergeseran Peranan Istri 3. Pergeseran Orientasi Terhadap Kerabat. Pergeseran kedudukan dan peranan anak dalam lingkungan keluarga, yaitu : 1. Pergeseran Kedudukan Anak2. Pergeseran Peranan Anak 3. Pergeseran Orientasi Terhadap Kerabat. Sistem sosial masyarakat Batak Toba di Medan, khususnya struktur keluarganya telah mengalami gejala pergeseran yang bersumber dari recurrent processes. Namun sistem sosial dan sistem budaya masyarakat tersebut belum mengalami perubahan. Kemungkinan terjadinya perubahan sistem sosial dan sistem budaya secara besar-besaran (directional processes) akan selalu ada karena perubahan besar tersebut telah dimulai dengan gejala pergeseran pada tahap recurrent processes masyarakat Batak Toba di Medan saat ini.