DALEM TAWANAN DJEPANG

Pengarang: 

NIO JOE LAN

Penerbit: 

KOMUNITAS BAMBU

Tahun Terbit: 

2008

Daerah/Wilayah: 
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Rak: 

BSL - 928 (920-929)

ISSN/ISBN: 

979-3731-31-1

Jumlah Halaman: 
353

Dalam tulisan awalnya, Nio menuturkan betapa berat masuk penjara baginya karena harus meninggalkan isterinya yang baru melahirkan lima hari sebelumnya. Rupanya tentara Jepang yang harus menangkapnya cukup mengerti keadaannya dan mohon maaf kepadanya. Di  penjara Bukit Duri dia berjumpa dengan beberapa pemimpin Tionghoa penting antara lain Mayor Khouw Kim An (1879-1945). Setelah beberapa lama para tawanan Tionghoa dipindahkan ke Serang, kemudian dipindahkan lagi ke kamp militer Cimahi. Disana mereka berada bersama orang Belanda, namun keadaannya berbeda dengan di Bukit Duri. Di Cimahi mereka menghuni sebuah rumah dan tidak lagi sebuah penjara. Pada akhir buku Dalem Tawanan Djepang ini, Nio menulis tentang hubungan yang sangat baik antara orang Tionghoa dengan para pemimpin Belanda di kamp; mereka saling menghormati dan mengagumi dan pada saat berpisah orang Belanda menjanjikan perlakuan yang lebih baik dari pemerintahan Belanda kelak kalau mereka berkuasa lagi. Pada penutupnya, penulis mengutarakan perasaan simpatinya terhadap warga Belanda yang tidak dapat meninggalkan kamp karena mereka belum mengetahui kemana mereka harus pergi. Rumah tangga mereka telah tercerai-berai oleh penguasa Jepang dan bekas rumah mereka saat itu mungkin telah ditempati oleh orang lain. Sedangkan, warga Tionghoa paling tidak masih dapat pulang ke rumah masing-masing.