CORAK DAN POLA HUBUNGAN SOSIAL ANTAR GOLONGAN DAN KELOMPOK ETNIK DI DAERAH PERKOTAAN : SUATU STUDI M

Pengarang: 

DRS. ZULYANI HIDAYAH, MA

Penerbit: 

PROYEK PENGKAJIAN DAN PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA

Tahun Terbit: 

1997

Daerah/Wilayah: 
Jawa Timur
Rak: 

3.4(300-31

CORAK DAN POLA HUBUNGAN SOSIAL ANTAR GOLONGAN DAN KELOMPOK ETNIK DI DAERAH PERKOTAAN : SUATU STUDI MASALAH PEMBAURAN DALAN BIDANG SOSIAL DAN EKONOMI DAERAH SURABAYA JAWA TIMUR
Pola hubungan sosial antar golongan etnik di Surabaya diwarnai oleh keaneka ragaman latar belakang daerah asal dan kebudayaan daerah yang mereka kembangkan di lingkungan yang kompleks ini. Latar belakang kebudayaan tersebut merupakan dasar dari perwujudan nilai budaya yang mereka gunakan sebagai identitas etnik, alat pelestari keberadaan suku bangsa, serta antisipasi bagi perubahan sosial yang mungkin timbul seketika. Dan nampaknya identitas suku-suku bangsa yang ada di Surabaya tidak mungkin hilang begitu saja, mengingat pola hubungan etnik yang mereka kembangkan sekarang telah terbentuk menurut suatu kepentingan tertentu. Sungguhpun individu-individu warga suku bangsa yang ada di Surabaya berusaha untuk bergaul dengan baik dengan baik dengan setiap warga suku bangsa lain. Pengakuan diri dari kelompok mayoritas Jawa di Surabaya paling nampak diaktifkan melalui pemakaian bahasa Jawa sebagai bahasa pergaulan. Orang Jawa Surabaya secara menggunakan bahasa Jawa ketika berhubungan dengan pedagang Cina karena ia tahu bahwa pedagang Cina itu akan membalasnya pula dengan dengan bahasa Jawa. Jadi tidak heran jika bahasa pergaulan di Surabaya adalah bahasa jawa dan Madura. Bahkan bukan sesuatu yang aneh jika orang Jawa di Surabaya malah berusaha bisa berbahasa Madura. Sebaliknya sebagian orang Madura di Surabaya juga berusaha berbahasa Jawa. Sementara itu pembauran yang asimilatif bagi sebagian besar golongan etnik dapat dicapai karena tidak ada perbedaan yang prinsipil, seperti agama, adat kebiasaan, dan pendefinisian diri. Pembauran yang terjadi dengan golongan Cina hanya ada sampai pada tingkat interaksi sosial formal. Sedangkan pembauran yang asimilatif antara suku-suku bangsa lain dengan golongan etnik ini sulit tercapai karena adanya perbedaan yang prinsipil tersebut di atas.