BUNGA RAMPAI BUDAYA BENGKULU

Pengarang: 

SARWIT SARWONO, DKK

Penerbit: 

BPSNT PADANG PRESS

Tahun Terbit: 

2012

Daerah/Wilayah: 
Bengkulu
Rak: 

9.1 (JP)

ISSN/ISBN: 

978-602-8742-50-4

BUNGA RAMPAI BUDAYA BENGKULU

Bunga Rampai ini memilih tema Budaya Masyarakat Bengkulu : Tradisi Berladang, Kepemimpinan dan Eksistensi Seni dengan menurunkan 4 (empat) buah judul, yaitu : 1) Tradisi Berladang Padi pada Masyarakat Serawai di Bengkulu : Kajian Berdasarkan Naskah Ka-Ga-Nga dan Teks-Teks Lisan oleh Sarwit Sarwono dan Ernatip. Karya tersebut mengupas dengan jelas tentang tradisi berladang padi pada masyarakat Serawai di Bengkulu berdasarkan naskah Ka Ga Nga. Tradisi berladang sudah dilakukan turun temurun oleh masyarakat Serawai dan sampai sekarang masih dilakoni turun temurun oleh salah satu etnik yang ada di Bengkulu. 2) Konsep Gedang Begele dalam Sistem Kepemimpinan Tradisional Sukubangsa Pekal di Desa Sibak Kecamatan Ipuh Kabupaten Mukomuko oleh Yondri. Memaparkan tentang sistem kepemimpinan tradisional suku bangsa Pekal yang tetap didasarkan pada nilai keagamaan, kemampuan supranatural dan kewenangan menurut konsep adat. 3) Eksistensi Seni Rejung pada Masyarakat Serawai di Kabupaten Bengkulu Selatan oleh Erric Syah.Karya tersebut mengupas tentang kesenian rejung di masyarakat Serawai di Kabupaten Bengkulu Selatan. Rejung merupakan bentuk sastra lisan berwujud pantun yang didalamnya terdapat kata-kata kiasan atau sindiran. 4) Budaya Orang Kaur oleh Rois Leonard Arios. Menjelaskan tentang persoalan budaya orang Kaur. Konsep Kaur sebagai sebuah suku bangsa belum dapat disimpulkan dengan pasti mengingat masih banyaknya simbol-simbol kebudayaan dengan suku bangsa lain seperti besemah dan Semende. 5) Toponimi : Sejarah Penamaam Tempat di Kabupaten Rejang Lebong oleh Jumhari. Ia menjelaskan bahwa toponomi dari nama tempat atau daerah mencerminkan tentang bagaimana sejarah sebuah identitas menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakatnya. Lebih lanjut judul ini menjelasakan tentang penamaan asal-usul suatu daerah, selain mencerminkan identitas suatu tempat, juga menjadi rujukan didalam memahami bagaimana bentuk kearifan lokal suatu masyarakat yang tidak hanya bermakna dalam konteks estetika kebahasaan, akan secara eksplisit memiliki makna yang mendalam.