BUNGA RAMPAI ADAT DAN BUDAYA MASYARAKAT DI SUMATERA BARAT

Pengarang: 

YULISMAN, REFISRUL, ROIS LEONARD ARIOS DKK, UNDRI

Penerbit: 

BPNB SUMATERA BARAT

Tahun Terbit: 

2018

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Barat
Rak: 

ASB - 390 (390-399)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
215

Dalam buku Bunga Rampai yang mengangkat tema Adat dan Budaya Masyarakat di Sumatera Barat ini terdapat empat artikel. Empat artikel tersebut semuanya mengenai budaya baik itu menyangkut mengenai pendidikan, tata krama, kesenian, dan kumpulan masyarakat. Adapun empat artikel tersebut meliputi: (1) Peran Mamak Dalam Pendidikan Di Minangkabau Studi Kasus di Nagari Pandai Sikek. Di Nagari Pandai Sikek pendidikan berjalan dengan baik, terutama pendidikan formal, pendidikan non formal dan pendidikan informal. Anak kemenakan diberikan kesempatan yang sebesar besarnya dalam mendapatkan pendidikan yang diingininya, bahkan seorang mamak akan memarahi anak kemenakan apabila ada yang tidak mau mengikuti pendidikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sarana pendidikan disamping bangunan pemerintah, juga ada tumbuh atas kemauan wari warga Nagari Pandai Sikek itu sendiri. (2) Tatakrama Tradisional Pada Masyarakat Nagari Mandeh Di Kabupaten Pesisir Selatan oleh Refisrul. Tatakrama masyarakat mandeh masih kental dengan aroma ketradisionalan, dan belum banyak tersentuh oleh pengaruh dari luar. Hal itu terlihat dari penggunaan tatakrama didalam kehidupan sehari-hari masih mengacu pada kebiasaan tradisional yang diwarisi dari generasi sebelumnya (turun temurun). (3) Suku Anak Dalam Di Kabupaten Dharmasraya Propinsi Sumatera Barat oleh Rois Leonard Arios, Ernatip, dan Efrianto. Suku Anak Dalam (SAD)merupakan salah satu suku bangsa yang mendiami kawasan hutan dan memanfaatkan hutan sebagai tempat tinggal dan sumber mata pencaharian mereka. Berbagai konsep yang diberikan terhadap kelompok ini seperti Orang Kubu, Orang Rimba, dan Suku Anak Dalam. Bagi masyarakat Dharmasraya, kelompok SAD disebut degan panggilan Sanak. Permasalahan yang dihadapi SAD dalam menjamin kelangsungan hidup mereka adalah terancamnya hutan sebagai rumah dan sumber penghidupan mereka.(4) Silek Minangkabau oleh Unri. Secara prinsip silek sebagai seni bela diri, yang sifat keampuhannya lebih mengutamakan pertahanan, elak dan tangkap. Lazimnya di daerah Sumatera Barat silek merupakan suatu keterampilan untuk membela diri tanpa mempergunakan senjata atau alat lainnya. Dalam usaha bela diri dari serangan musuh, maka silek ini diajarkan tanpa mempergunakan alat, melainkan sepenuhnya berpegang kepada keterampilan untuk mempertahankan diri dari serangan. Belajar silek bukan untuk mencari musuh, melainkan untuk mencari teman.