BUDAYA SUNGAI PADA MASYARAKAT KOTA SINTANG, PROVINSI KALIMANTAN BARAT

Pengarang: 

JUNIAR PURBA, POLTAK JOHANSEN DAN DONATIANUS BESP

Penerbit: 

MEDIA JAYA ABADI

Tahun Terbit: 

2020

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Barat
Rak: 

MKE - 304.2 (300-309)

ISSN/ISBN: 

978-623-7526-33-9

Jumlah Halaman: 
91

Dalam sejarah umat manusia, peradaban-peradaban besar biasanya tumbuh dan berkembang di sepanjang aliran sungai. Hal ini juga berlaku di Indonesia, khususnya di pulau-pulau yang dialiri sungai-sungai besar. Di Kalimantan Selatan, Sungai Kuin di Kota Banjarmasin menjadi ruang publik dengan segala aktivitasnya. Sementara itu, di Kalimantan Barat Sungai Kapuas yang membelah wilayah provinsi ini dari timur ke barat, dari jantung Pulau Borneo menuju laut di Selat Karimata, memiliki titik-titik peradaban dan salah satu titiknya adalah Kota Sintang. Kota Sintang dibelah dua sungai, yakni Sungai Kapuas dan Sungai Melawi. Sungai Melawi bermuara ke Sungai Kapuas dan tepat membelah kota ini sehingga Kota Sintang terbagi ke dalam tiga wilayah bentangan darat.  Sungai Kapuas yang melintasi Kota Sintang mempunyai peranan penting dalam kehidupan masyarakat setempat. Melalui jalur-jalur sungai ini, terjadi ekspansi kekuasaan, kontak agama, kontak kebudayaan, serta kontak perdagangan. Sebagai pusat interaksi manusia, tepian sungai yang menjelma menjadi pusat pemerintahan tentu menghasilkan kebudayaan yang sangat dipengaruhi oleh eksistensi sungai dan hutan yang ada di sekitarnya. Di dalam kebudayaan tersebut, orang-orang yang berinteraksi melakukan aktivitas dengan karakter yang unik. Dan ini akan dijelaskan secara mendalam di buku yang berjudul Budaya Sungai Pada Masyarakat Kota Sintang, Provinsi Kalimantan Barat.