BUDAYA MASYARAKAT MINANGKABAU DI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA

Pengarang: 

MARYETTI

Penerbit: 

BPSNT PADANG PRESS

Tahun Terbit: 

2009

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Barat
Rak: 

3.4(300-31

ISSN/ISBN: 

978-979-9388-97-1

BUDAYA MASYARAKAT MINANGKABAU DI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA

Secara garis besar perbedaan penggolongan masyarakat Minangkabau menjadi ”urang darek” dan ”urang pasisie”. Yang pertama adalah istilah yang diberikan untuk menyebut masyarakat yang menempati wilayah dataran tinggi di sekitar pegunungan Merapi, Singgalang dan Sago sedangkan yang kedua adalah kelompok masyarakat yang mendiami wilayah pesisir (pantai). Masing-masingnya memiliki ciri budaya sendiri, yang menurut para ahli sedikit banyak dipengaruhi oleh kondisi alam yang mereka tempati. Budaya masyarakat Luhak Lima Puluh Kota secara umum tidak jauh berbeda dengan budaya masyarakat suku bangsa Minangkabau. Sebagai bagian dari suku bangsa Minangkabau, masyarakat di Luhak ini mengikuti pola-pola yang berlaku umum pada budaya Minangkabau seperti sistem kekerabatan dan pola pewarisan yang mengikuti garis ibu (matrilineal)