BIARO-BIARO PADANG LAWAS “BINGKAI SEJARAH PERADABAN HINDU-BUDHA DI SUMATERA UTARA”

Pengarang: 

TIM PENYUSUN 

Penerbit: 

BPCB PROVINSI ACEH

Tahun Terbit: 

2021

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Barat
Rak: 

CER - 398

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
44

Di daerah yang terletak di pedalaman Sumatera ini pernah hidup suatu peradaban nenek moyang di masa lalu yang dibuktikan dengan adanya tinggalan-tinggala berupa biaro atau candi, prasasti serta berbagai naskah kuno. Nama Padanglawas telah dikenal sejak daerah Padang Lawas pertama kali disebutkan dalam lontar Negarakertagama yang ditulis pada tahun 1365 dan dalam Pupuh XIII disebutkan nama Padang Lawas sebagai sebuah negara bawahan dari kerajaan Majapahit. Kepurbakalaan Padang Lawas pertama kali ditemukan oleh seorang geolog dari Belanda yaitu Franz Willen Junghun. Dan ia melakukan penyelidikan di kawasan Padang Lawas. Kemudian pada tahun 1854, H.Van Rosenberg melakukan perjalanan ke Padang Lawas dan menguraikan serta menggambarkan Candi Tandihat I serta relief yang ada di bangunan tersebut. Beberapa tinggalan arkeologis bercorak Hindu-Budha yang ada di kawasan Padang Lawas selain Candi Tandihat I diantaranya Candi Tandihat II, Tandihat III, Bahal I, Bahal II, Bahal III, Nagasaribu, Sitopayan, Pulo, Sangkilon, Manggis, dan Sitopayan.