BERKALA ARKEOLOGI SANGKHAKALA VOL. 19 NO. 1 MEI 2016

Pengarang: 

TIM PENULIS

Penerbit: 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN  PUSAT PENELITIAN ARKEOLOGI NASIONAL  BALAI ARKEOLOGI MEDAN

Tahun Terbit: 

2016

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Utara
Rak: 

SDP - 930.1 (930 - 939)

ISSN/ISBN: 

1410-3974

Jumlah Halaman: 
74

Sangkhakala Berkala Arkeologi volume XIX Nomor 1 Tahun 2016 terbit dengan lima tulisan hasil penelitian. Tulisan pertama berjudul "Karakter Budaya Gua Kidang Hunian Prasejarah Kawasan Karts Pegunungan Utara Jawa" oleh Indah Asikin Nurani dari Balai Arkeologi DIY, mengemukakan bahwa Gua Kidang yang berada di kawasan Karst Blora hingga saat ini masih merupakan satu-satunya gua yang membuktikan indikasi pernah dihuni secara intensif dalam kurun waktu yang panjang. Tulisan kedua berjudul "Tinggalan Batu Dulang di Situs Alang Assaude, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku" oleh Karyamantha Surbakti dari Balai Arkeologi Maluku, mengemukakan bahwa masyarakat Maluku dikenal sebagai masyarakat yang sangat kental menjalankan tradisi termasuk penghormatan terhadap arwah leluhur. Aspek kemaritiman dalam arkeologi muncul dalam tulisan Ketut Wiradnyana (Balai Arkeologi Sumatera Utara) yang berjudul "aspek-aspek Kemaritiman di Dataran Rendah dan Dataran Tinggi dari Masa Mesolitik Hingga Tradisi Megalitik", mengemukakan bahwa aspek kemaritiman tidak hanya menyangkut wilayah budaya pesisir saja, tetapi juga mempengaruhi budaya yang ada di dataran tinggi. Lucas Partanda Koestoro (Balai Arkeologi Sumatera Utara) dan M. Fadhlan S.I. (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional) menggunakan ilmu geologi dalam penelitian arkeologi dan dituangkan dalam tulisan yang berjudul "Geologi Situs Bawomataluo, Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara", berdasarkan pengamatan diketahui bahwa pengambilan bahan batuan untuk bangunan-bangunan megalitik di Bawomataluo berdasarkan analisis petrologi diambil dari Sungai Batubuaya yang berjarak 1,5 km arah baratdaya dari Situs Bawomataluo. Tulisan terakhir ditulis oleh Muhammad Chawari dari Balai Arkeologi DIY berjudul "Spesifikasi dan Asal Sarana Pertahanan Asing yang Ada di Pulau Madura: Bunker Jepang VS Bunker Belanda".