BENTUK PENYAJIAN DAN PENGEMBANGAN KESENIAN EBEG BANYUMAS, JAWA TENGAH

Pengarang: 

SUKARI, YUSTINA HASTRINI NURWANTI

Penerbit: 

BPNB D.I. YOGYAKARTA

Tahun Terbit: 

2021

Daerah/Wilayah: 
Jawa Tengah
Rak: 

RKE - 793.4(790-799)

ISSN/ISBN: 

978-623-7654-13-1

Jumlah Halaman: 
90

Kesenian Ebeg merupakan merupakan salah satu kesenian tradisional di Banyumas. Nama Ebeg ini dikenal di wilayah Banyumas, sedangkan di daerah lain dikenal dengan nama lain seperti kuda lumping, jathilan, jaran dhor, barongan. Hampir setiap desa yang ada di Banyumas memiliki kesenian Ebeg ini. Kesenian ini dikatakan sebagai seni budaya yang berasal dari Jawa Banyumasan karena didalamnya tidak ada pengaruh dari budaya lain, bahkan dari Agama Hindu dan Budha sekalipun yang termasuk agama pertama masuk. Ebeg tidak menceritakan tokoh atau pengaruh agama tertentu. Lagu-lagu justru banyak menceritakan kehidupan masyarakat tradisional, terkadang berupa pantun dan wejangan. Lagu sepanjang pentas hampir semua menggunakan Bahasa Jawa Banyumasan dengan khas logat ngapak, seperti Sekar Gadung, Eling-Eling, Ricik-Ricik Banyumasan, jarang menggunakan lirik Bahasa Jawa Mataraman. Iringan musiknya adalah Calung Banyumasan atau gamelan Banyumasan. Yang membedakan Ebeg dengan kuda lumping atau jathilan atau jaranan dilihat dari gerakannya.   Ebeg Banyumas tariannya kasar, jogetnya asal mengikuti kendang saja, sedangkan jathilan atau jaranan gerakannya halus. Dalam pertunjukan Ebeg selalu dipercaya hadir indhang yang merupakan roh leluhur yang masuk kedalam diri para pemain, sehingga ada unsur kesurupan/wuru/mendem. Kemudian ada yang menyebut kemunculan kesenian Ebeg ini ada hubungannya dengan Pangeran Diponegoro tahun 1825 adanya pergolakan melawan penjajah Belanda, dengan perang gerilya yang melibatkan para prajurit berperang melawan penjajah.