BENTENG UJUNG PANDANG

Pengarang: 

SAGIMUN M.D

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Tahun Terbit: 

1992/1993

Daerah/Wilayah: 
Sulawesi Selatan
Rak: 

SUA - 959.8 (950-959)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
193

Benteng Ujung Pandang adalah sebuah benteng kecil kerajaan Gowa yang tembok lingkarnya masih utuh. Bentuk ini dibangun pada kira-kira tahun 1545 pada masa pemerintahan Raja Gowa yang ke X yang bergelar Karaeng Tunipalangga Ulaweng. Benteng Ujung Pandang mempunyai bentuk yang khas, yakni menyerupai seekor penyu yang sedang merayap seolah-olah hendak terjun ke laut. Oleh sebab itu, benteng ini sering juga disebut Benteng Sang Penyu atau disebut Benteng Panywa. Setelah perjanjian Bungaya ditandatangani tanggal 18 November 1667, Benteng Ujung Pandang diserahkan kepada Belanda. Setelah jatuh ke tangan dan diduduki oleh orang Belanda, maka Benteng Ujung Pandang atau Fort Rotterdam dijadikan tempat oleh Belanda untuk berlindung dari serangan rakyat Indonesia yang menentang penjajahan bangsa asing. Jikalau Benteng Ujung Pandang sudah tidak ada lagi seperti Benteng Sombaopu dan benteng kerajaan Gowa lainnya, maka akan lebih sukar untuk membuktikan atau menerangkan bahwa bangsa Indonesia sejak dahulu selalu menentang penjajahan bangsa di tanah air kita.