BARONG LANDONG DARI PERMAINAN RAKYAT MENJADI IKON KOTA BENGKULU

Pengarang: 

ROIS LEONARD ARIOS

Penerbit: 

BPNB SUMATERA BARAT

Tahun Terbit: 

2020

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Barat
Rak: 

RKE - 791.5 (790-799)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
17

Kesenian merupakan salah satu unsur budaya yang paling menonjol, dan kesenian itu sendiri terdiri dari banyak cabang serta macamnya. Kota Bengkulu merupakan ibukota Propinsi Bengkulu yang memiliki beragam suku bangsa dan budaya baik suku bangsa asli dan pendatang. Suku bangsa asli Kota Bengkulu adalah Melayu Bengkulu dan Lembak. Salah satu karya budaya suku bangsa Lembak adalah Barong Landong yang secara khusus hanya ada di Kota Bengkulu. Barong Landong diciptakan pada akhir abad ke-19 sebagai bentuk permainan atau sarana hiburan masyarakat setelah musim panen padi selesai. Barong Landong yang memiliki tinggi badan 2,5 meter dan garis tengahnya sekitar 1 meter ini memiliki 3 bagian utama yaitu kepala, badan, tangan dan bawah. Seluruh bahan yang digunakan berasal dari alam berupa kayu, rotan, dan tali. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatannya terdiri dari bahan dasar (kayu, bambu, rotan, tali), dan bahan pelengkap (kain beludru, kain songket, bahan singal atau mahkota kepala pria dan wanita, properti pengantin pria dan wanita). Dalam pertunjukan Barong Landong, burung lanting menjadi sesuatu yang penting karena ini dianggap sebagai bagian dari pengolahan sawah bersama kebang-kebang (orang-orangan sawah). Mainan burung lanting dimainkan sebagai pengiring gerak tari Barong Landong. Dan ini dimainkan oleh sepasang dua orang laki-laki dengan cara diayun-ayunkan ke atas menyerupai terbang burung tersebut.