BANDA ACEH DALAM SIKLUS PERDAGANGAN INTERNASIONAL 1500 - 1873

Pengarang: 

SUDIRMAN

Penerbit: 

BPSNT BANDA ACEH

Tahun Terbit: 

2009

Daerah/Wilayah: 
Nanggroe Aceh Darussalam
Rak: 

SEK - 900 (900-909)

ISSN/ISBN: 

978-979-9164-74-2

Jumlah Halaman: 
158

Masuknya kekuasaan Belanda ke Aceh pada abad ke-19 menyebabkan munculnya berbagai kota sebagai pusat administrasi kolonial dan kegiatan ekonomi. Banda Aceh dapat diidentikkan sebagai pusat kerajaan dan sebagai bandar atau pelabuhan tempat impor-ekspor berlangsung. Pusat kerajaan atau pusat pemerintahan dapat terjadi sekaligus sebagai bandar atau pelabuhan. Pada waktu itu, usaha perdagangan sepenuhnya dikuasai oleh Sultan, sedangkan Uleebalang dan pedagang lainnya hanya diizinkan berdagang sebagai pedagang perantara. Sultan Aceh mendominasi usaha perdagangan secara intensif pada akhir abad ke-16 hingga permulaan abad ke-17 pada masa Sultan Alkahhar dan Iskandar Muda. Dominasi Iskandar Muda dalam bidang perdagangan karena berkuasa penuh dalam bidang politik dan militer, sehingga berhasil dalam bidang ekonomi. Bandar Aceh Darussalam sebegai pusat pemerintahan Kerajaan Aceh adalah salah satu Bandar perdagangan yang ramai semenjak abad ke-16. Berbagai hasil bumi dari daerah pedalaman bahkan dari daerah-daerah uleebalang harus diangkut terlebih dahulu ke pusat pemerintahan di Bandar Aceh Darussalam. Perkembangan Kesultanan Aceh semenjak awal abad ke-16 menunjukkan adanya hubungan yang erat antara perdagangan dengan kekuasaan negara, bahkan perdagangan merupakan basis kekuasaan politik.