ASPEK KULTURAL PEMEKARAN DAERA DI SUMATERA UTARA

Pengarang: 

FIKARWIN ZUSKA, DKK

Penerbit: 

BPSNT BANDA ACEH

Tahun Terbit: 

2012

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Utara
Rak: 

SPO - 900(900-909)

ISSN/ISBN: 

978-602-9457-02-5

Jumlah Halaman: 
99

Kelompok masyarakat Batubara yang merasa terpinggirkan oleh kelompok Asahan kelompok yang menguasai pemerintahan dan birokrasi Kabupaten Asahan pun akhirnya memilih jalur politisasi etnisitas untuk memperjuangkan ”pemisahan diri’. Mendirikan Kabupaten Batubara. Mereka mendirikan kelompok-kelompok yang dinamakan GEMKARA di setiap kecamatan yang menurut sejarah dan budaya merupakan wilayah Batubara. Orang Batubara berbeda dengan Orang Asahan. Meskipun sama-sama mengaku Melayu, tetapi merasa ada perbedaan; perbedaan asal-usul, perbedaan pengalaman (sejarah) pemerintah baik dengan kerajaan Siak maupun sewaktu dibawah penjajahan Belanda. Kesadaran tentang perbedaan inilah yang dikedepankan dalam berjuang termasuk beda nasib atau peruntungan dalam konteks politik dan ekonomi selama bergabung dibawah ”bendera” Kabupaten Asahan. Sejarah ini terus diperkuat seakan-akan tidak ada lagi kekeliruan didalamnya, dan kebenaran yang ada didalamnya pun harus didukung atau diwujudkan kembali apabila orang Batubara ingin memperbaiki keadaanya menjadi lebih baik dari kondisi sekarang. Ini berarti gagasan mendirikan Kabupaten Batubara tidak boleh tidak, harus diwujudkan saat itu juga. Kesejateraan orang Batubara akan datang bersamaan dengan terwujudnya Kabupaten pemekaran yang otonom, yaitu Kabupaten Batubara.