ASPEK BUDAYA PADA TEKNOLOGI PEMBUATAN DAN PEMASARAN KERUPUK BASAH DI KABUPATEN KAPUAS HULU (SEBUAH TINJAUAN FOLKLOR)

Pengarang: 

WAHYU DAMAYANTI

Penerbit: 

BPNB PONTIANAK

Tahun Terbit: 

2013

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Barat
Rak: 

KBA - 641.3 (640-649)

ISSN/ISBN: 

978-602-1202-38-8

Jumlah Halaman: 
76

Istilah Temet yang kurang begitu dikenal berubah menjadi “Kerupuk Basah” yang sampai saat ini dikenal masyarakat luas khususnya di Kapuas Hulu. Perubahan penyajian kerupuk basah yang dulunya hanya menggunakan sambal cair tanpa bumbu kacang merupakan proses transformasi budaya yang sangat melekat pada masyarakat Kapuas Hulu, meski saat ini ada modofikasi penyajian kerupuk basah dengan menggunakan sambal kacang. Cara pembuatan kerupuk basah yang relatif sangat sederhana dan mudah yaitu ada dua versi dalam pengelolaannya dikukus dan direbus. Dua versi pembuatannya tidak mengurangi rasa dan teksturnya. Meskipun ikan belida sebagai bahan utamanya sudah mulai sulit diperoleh, tetapi banyak pembuat kerupuk basah tidak hilang akal untuk menyiasati hal tersebut. Mereka bisa mengganti dengan ikan jenis air tawar dengan mencampurkan keduanya sehingga tidak menghilangkan ciri khas kerupuk basah tersebut. Teknologi yang digunakan masih seperti dulu antara lain penggiling ikan, baskom, talenan, panci, wajan, dll. Pemasarannya masih dari mulut ke mulut. Kerupuk basah pada saat ini sudah masuk ke hotel-hotel yaitu dengan disajikannya pada acara-acara baik itu untuk pengunjung dari luar negeri maupun domestik.  

Translate

The term Temet, which was less well known, had changed to "Kerupuk Basah" which was still known to the wider community, especially in Kapuas Hulu. Changes in the presentation of kerupuk basah that used to only use liquid chili sauce without peanut sauce was a cultural transformation process that was very inherent in the Kapuas Hulu community, although there was currently a modification of the presentation of kerupuk basah using peanut sauce. The method of making kerupuk basah which was relatively very simple and easy was that there were two versions in the management of steamed and boiled. The two manufacturing versions did not reduce the taste and texture. Although belida fish as the main ingredient had begun to be difficult to obtain, but many kerupuk basah makers did not lose their minds to get around this. They could replace it with freshwater fish by mixing the two so that it did not eliminate the characteristic wet crackers. The technology used was as before, among others, fish grinders, basins, cutting boards, pans, pans, etc. Marketing was still word of mouth. Kerupuk basah had now been entered into hotels by serving them at events both for foreign and domestic visitors.