ARSITEKTUR TRADISIONAL MASYARAKAT PENDHALUNGAN PROVINSI JAWA TIMUR

Pengarang: 

SINDU GALBA

Penerbit: 

KEMENTERIAN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA

Tahun Terbit: 

2012

Daerah/Wilayah: 
Jawa Timur
Rak: 

ART - 728.3 (720-729)

ISSN/ISBN: 

978-602-9052-19-0

Jumlah Halaman: 
105

Jember adalah satu dari sejumlah daerah yang berada di kawasan tapal kuda, yaitu kawasan yang membentuk huruf “U”. Dari segi budaya, kawasan tapal kuda merupakan tempat bertemunya (berinteraksinya) antarpendukung budaya yang berbeda, yaitu budaya Jawa dan Madura. Tapal kuda, disamping suatu istilah untuk menyebut daerah-daerah yang satu dengan lainnya (jika dihubungkan) membentuk huruf “U”, juga merupakan “wadah” bertemu dan bercampurnya dua budaya yang berbeda. Dan wadah itu disebut “dhalung”. Oleh karena itu, para pakar menyebut masyarakatnya sebagai masyarakat Pendhalungan. Masyarakat Pendhalungan-Sidomukti hanya mengenal dua jenis bangunan rumah tradisional, yaitu rumah gudangan dan pacenan. Rumah gudangan itu sendiri terbagi menjadi gudangan malang dan gudangan mujur. Yang perbedaanya terletak pada bagian yang disebut kethek. Rumah, baik itu gudangan maupun pacenan tidak hanya berfungsi sebagai pelindung tetapi juga sosial dan ekonomi. Berdasarkan medianya, ragam hias rumah yang di kalangan masyarakat Pendhalungan Sidomukti berupa kayu yang diukir secara datar (ukiran datar) dan kayu yang diukir secara tembus (ukiran tembus). Berdasarkan tata ruang beserta fungsinya anak perempuan mendapat perlakuan yang khusus. Hal itu terlihat dari ketika anak perempuan sudah datang bulan, ia memiliki kamar sendiri. Sedangkan laki-laki yang sudah akil balik  dipersilakan tidur di ruang tamu atau langgar. Masyarakat Pendhalungan Sidomukti mempercayai bahwa pendirian rumah, tidak hanya menyangkut hal-hal kasat mata, tetapi juga yang bersifat gaib. Maka dari itu dalam pendirian rumah melalui perhitungan dan ritual.