ANALISIS POLA PEMUKIMAN DI LINGKUNGAN PERAIRAN DI INDONESIA

Pengarang: 

DRS. DJENEN BALE MSc

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Tahun Terbit: 

1994/1995

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Tengah
Rak: 

2.4(300-31

ANALISIS POLA PEMUKIMAN DI LINGKUNGAN PERAIRAN DI INDONESIA

Sejumlah satuan pemukiman dilingkungan perairan dihuni oleh warga yang menggunakan ruang perairan sebagai salah satu sumber penghidupan. Warga yang sama dan atau sebagian warga lainnya melakukan kegiatan pertanian sebagai sumber penghidupan sambilan atau utama. Kategori ini, umumnya, meliputi sebagian besar satuan pemukiman di lingkungan perairan sungai, terutama di Kalimantan Tengah. Pemanfaatan perairan pada Masa Kerajaan Tarumanegara bukan saja dalam bentuk pelayaran niaga, melainkan juga dalam bentuk penangkapan ikan yang sekaligus merupakan mata pencahariaan sebagian penduduk kerajaan. Pelayaran niaga semakin ramai pada Masa Kerajaan Sriwijaya. Di samping itu, warga Sriwijaya telah menggunakan sungai sebagai prasarana perhubungan dengan perahu sebagai sarananya. Migrasi dari Hulu ke Hilir ini pun hidup dalam cerita tentang munculnya pemukiman baru orang Dayak Ngaju di bagian hilir Sungai Kahayan (Sungai Dayak Besar) dan Sungai Kapuas, Murung (Sungai Dayak Kecil). Dinyatakan bahwa nenek moyang mereka pada mulanya bermukim di daerah aliran hulu Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah. Migrasi itu disebabkan oleh gangguan keamanan. Selain yang terbukti dalam sejarah, kontak lokal lewat sungai agaknya telah berlangsung sejak lama sehingga sampai kepada warga suatu kelompok masyarakat sekarang melalui cerita rakyat. Lebih mutakhir dari ceritera rakyat itu adalah kontak yang lebih berdampak penyebaran agama Islam dan Kristen ke tengah tanah orang Dayak. Agama Islam disebarkan oleh orang Banjar yang memudiki sungai, dan agama Kristen disebarkan oleh orang Barat. Hubungan antara manusia dan air (sungai) sebagaimana terlihat pada berbagai kelompok masyarakat sekarang melembaga dalam bentuk berbagai upacara adat / kepercayaan. Kelompok masyarakat yang bermukim di lingkungan perairan sungai menggunakan perairan itu sebagai prasarana perhubungan sepanjang memilikiciri-ciri yang sejalan dengan penggunaan tersebut. Ciri-ciri itu, antara lain berkaitan dengan volume air, fluktuasi dan kecepatan arusnya. Banyakwarga di pusat-pusat pemukiman di sepanjang sungai di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan membuka ladang yang rada jauh di arah hulu atau hilir, bahkan di seberang sungai. Pada sejumlah kota Kabupaten dan kota propinsi, angkutan sungai berperan penting sebagai kota. Sebagai prasarana perhubungan, sungai dilengkapi dengan berbagai sarana penunjang, seperti terminal (dermaga) dan tanda-tanda lalulintas. Sarana angkutan tradisional di sungai adalah perahu dayung, sedangkan angkutan yang lebih mutakhir adalah perahu motor tempel dan kapal motor. Keselamatan dan keberhasilanmelakukan pelayanan perikanan di upayakan pulamelalui praktek-praktek berdasarkan kepercayaan. Penghasilan nelayan yang berkelompok dalam satuan-satuan pemukiman di lingkungan perairan di Indonesia relatif lebih kecil dari golongan mata pencaharian lainnya. Kemiskinan ini tercermin pula pada rendahnya tingkat pendidikan orang dewasa di perkampungan nelayan, walaupun kesadaran akan pendidikan anak mulai meningkat, terutama setelah Sekolah Dasar Inpres di bangun pada sejumlah desa nelayan itu.