AKTUALISASI NILAI-NILAI BUDAYA LOKAL PADA PERKAWINAN ADAT MANDAR

Pengarang: 

ANSAAR

Penerbit: 

BPNB MAKASSAR

Tahun Terbit: 

2013

Daerah/Wilayah: 
Sulawesi Barat
Rak: 

4.4 (390-3

ISSN/ISBN: 

978-602-263-040-1

AKTUALISASI NILAI-NILAI BUDAYA LOKAL PADA PERKAWINAN ADAT MANDAR

 

Diantara sekian bentuk-bentuk perkawinan adat Mandar, yang dianggap paling baik bagi masyarakat Mandar adalah siala macoa, karena perkawinan ini berlangsung sesuai dengan proses yang telah ditetapkan oleh agama dan adat. Proses itu diantaranya adalah Metindor, Mellatigi, Likka/Kaweng, Mappidei sulung, Maande-ande kaweng, Me’oro tosiala, Siuleq atau mangino, Marola, Mottong sambengi, Melipo ku’bur. Dalam penyelenggaraan perkawinan adat Mandar, aktualisasi atau penerapan nilai-nilai budaya lokal, seperti sianauang pa’mai, sirondo-rondoi dan sibalippari sudah menjadi suatu kebiasaan bagi orang Mandar. Implementasi sianauang pa’mai, sirondo-rondoi dan sibaliparri sebagai suatu nilai-nilai budaya lokal pada acara perkawinan di Kecamatan Balanipa dilegitimasi oleh sebuah istilah yang dinamakan indrang tassisingar. Istilah ini mengandung makna bantuan, baik berupa materi maupun pikiran yang diberikan pada seseorang yang menyelenggarakan acara perkawinan, dan menjadi hutang seumur hidup bagi yang menerima bantuan.Hutang ini baru terlunasi apabila orang yang telah menerima bantuan memberikan bantuan yang sama nilainya atau bahkan lebih pada orang yang pernah membantunya. Di Kecamatan Balanipa hingga sekarang ini, sianauang, pa’mai, sirondo-rondoi dan sibaliparri’ sebagai suatu sistem nilai budaya tetap teraktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Implementasinya dapat dilihat pada kehidupan sosial ekonomi, keamanan, dan keluarga.