AKTIVITAS NIAGA ANTARA PONTIANAK DAN SINGAPURA TAHUN 1819 - 1942

Pengarang: 

ANY RAHMAYANI, IRFAN NATARSA

Penerbit: 

KEPEL PRESS

Tahun Terbit: 

2017

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Barat
Rak: 

KBA - 900 (900-909)

ISSN/ISBN: 

978-602-356-188-9

Jumlah Halaman: 
89

Hubungan dagang dengan Singapura merupakan konsekuensi letak geografis dan historis yang dekat. Secara historis, Pontianak dibangun oleh seorang Sultan yang memiliki orientasi niaga yang sangat baik. Hubungan niaga Pontianak dan Singapura membentuk beberapa bentuk. Yaitu pola yang terbentuk oleh kongsi pertambangan Tionghoa. Pada periode selanjutnya, pola pertama ini membentuk jaringan perdagangan orang Tionghoa Pontianak dan Singapura yang terikat melalui modal usaha. Hanya sedikit pedagang Tionghoa di Pontianak yang mengeluarkan modal sendiri. Sebagian dari modal didapat dari pedagang-pedagang besar di Singapura. Bentuk kedua hampir sama dengan bentuk pertama hanya pelakunya adalah kapal-kapal pribumi lain terutama kapal Bugis. Bentuk ketiga, sebagaimana yang dilakukan oleh George Windsor Earl ketika melakukan pelayaran niaga dari Singapura ke Singkawang. Ia diarahkan oleh Residen untuk berlabuh di pelabuhan resmi sebelum melakukan kerjasama niaga dengan kongsi yang dimaksud. Bentuk terakhir adalah pola niaga yang terbangun dengan campur tangan pemerintah kolonial dengan jaringan pelayaran KPM. Usaha Belanda untuk menekan hubungan niaga Pontianak dan Singapura, dan Borneo pada umumnya sebenarnya telah dimulai beberapa saat setelah pendirian Singapura. Pemerintah kolonial menganggap bahwa kecendungan inlander ke Singapura karena pelabuhannya bebas, gratis dan tidak menyukai hal-hal administratif. Namun untuk kasus Pontianak dan Singapura, pemerintah kolonial Hindia Belanda melupakan satu hal penting bahwa jaringan perdagangan antara Pontianak-Singapura dan sekitarnya sudah terbangun lama bahkan menyentuh ke wilyahterdalam di kawasan Borneo.