AGAMA JAWA ABANGAN, SANTRI, PRIYAYI DALAM KEBUDAYAAN JAWA

Pengarang: 

CLIFFORD GEERTZ

Penerbit: 

KOMUNITAS BAMBU

Tahun Terbit: 

2017

Daerah/Wilayah: 
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Rak: 

AGA - 297.306.4 (290-299)

ISSN/ISBN: 

978-602-9402-12-4

Jumlah Halaman: 
598

Masyarakat Jawa di Mojokuto dilihatnya sebagai suatu sistem sosial dengan kebudayaan Jawanya yang akulturatif dan agamanya yang sinkretik karena terdiri atas tiga subkebudayaan Jawa yang masing-masing merupakan struktur sosial yang berlainan. Truktur-struktur sosial yang dimaksud adalah abangan (berpusat di pedesaan), santri (berpusat di tempat perdagangan atau pasar), dan priyayi (berpusat di kantor pemerintahan di Kota). Adanya tiga struktur sosial yang berlainan ini menunjukkan bahwa di balik kesan yang didapat dar pernyataan bahwa penduduk Mojokuto itu 90% beragama Islam – sesungguhnya terdapat variasi dalam sistem kepercayaan, nilai, dan upacara yang berkaitan dengan masing-masing struktur sosial tersebut. Tiga lingkungan yang berbeda (pedesaan, pasar, dan kantor pemerintahan) yang dibarengi dengan latarbelakang  sejarah kebudayaan yang berbeda (berkaitan dengan masuknya agama serta peradaban Hindu dan Islam di Jawa) telah mewujudkan adanya abangan (menekankan pentingnya aspek-aspek animistic), santri (menekankan aspek-aspek Islam), dan priyayi (menekankan aspek-aspek Hindu). Abangan , santri dan priyayi walaupun merupakan struktur-struktur sosial yang berlainan, mereka masing-masing saling melengkapi satu sama lain dlam mewujudkan sistem sosial Jawa yang berlaku umum di Mojokuto.