ADAT DAN UPACARA PERKAWINAN WOLIO

Pengarang: 

ABDUL MULKU ZAHARI

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Tahun Terbit: 

1981

Daerah/Wilayah: 
Sulawesi Tenggara
Rak: 

4.3(390-39

ADAT DAN UPACARA PERKAWINAN WOLIO

Setelah melalui upacara pertunangan beberapa lamanya berjalan, maka kedua pihak menunggu saatnya untuk kelangsungan perkawinan. Perkawinan biasanya berlangsung dalam bulan Syaban, Zulhaji atau Jumadil awal, yang pada umumnya berlangsung pada waktu malam hari. Sudah menjadi kebiasaan, beberapa hari sebelum perkawinan pengantin perempuan dibawa tinggal di rumah keluarga sampai saat perkawinan. Di masing pihak mengadakan jamuan makan disebut haroa. Ketikan diadakan upacara terakhir, keluarga laki maupun perempuan silih berganti datang mengantarkan apa yang dinamakan baku. Pada hari pobongkasia kedua pengantin memakai lagi pakaian adat pengantin. Setelah beberapa hari pobongkasia, pengantin laki mengadakan perkunjungan ke rumah orang tuanya, turun tanah yang pertama. Sesudah ini maka diadakanlah pula permufakatan dan memilih waktu untuk mengantar peti pakaian dari laki-laki. Pada waktu mempersatukan barang keduanya, orang tua ditunjuk keluar sambil membakar kemenyan memohon doa keselamatan untuk anaknya yang menikah.