Seminar Pembangunan Karakter Bangsa 2012

Seminar Pembangunan Karakter Bangsa 2012

 

Jika kejujuran, keteladanan, toleransi, etos kerja serta sikap mengutamakan kepentingan orang banyak merupakan nilai memang benar-benar merupakan bagian dari karakter bangsa ini, tentunya tidak perlu lagi ada keinginan untuk menggalakkan sebuah pendidikan karakter bangsa. Hal itu ditekankan oleh Drs. Soedarto, pengamat pendidikan dan sejarawan Kalimantan Barat, pada Seminar Pembangunan Karakter Bangsa yang diadakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Pontianak pada 29-30 Mei 2012 di Aula BPSNT Pontianak Jl. Sutoyo. Seminar yang dibuka oleh Kepala Balai, Drs. Salmon Batuallo ini  merupakan sebuah kegiatan tetap yang telah dilaksanakan selama beberapa tahun oleh BPSNT Pontianak baik di Kalimantan Barat maupun wilayah lain yang termasuk wilayah kerjanya. Kali ini BPSNT Pontianak mengundang generasi muda (baik dari siswa SMU, mahasiswa maupun perwakilan organisasi kepemudaan) serta pengajar (guru dan dosen). Seminar dengan tema “Generasi Muda Dalam Pembentukan Karakter Bangsa” ini menghadirkan 4 narasumber dalam berbagai kepakarannya yaitu Dr Anhar Gonggong, Drs. Soedarto, Pastor Jacques Maessen dan Pay Jarot Soejarwo.

Dalam kesempatan ini, DR. Anhar Gonggong, sejarawan terkemuka di Indonesia, memberikan gambaran tentang generasi muda yang berkarakterlah yang mampu menciptakan generasi emas Indonesia sampai akhirnya Indonesia merdeka. Soekarno, Hatta dan masih banyak lagi adalah generasi muda yang memiliki idealisme tinggi, membangun kesatuan di atas keberagaman demi sebuah cita-cita luhur. Karakter inilah yang seharusnya dimiliki generasi sekarang. Berkaitan dengan itu, Anhar menghimbau pada para pengajar untuk mampu menunjukkan “wajah’ dan makna dalam seluruh peristiwa sejarah yang diterangkannya. Hal ini diamini oleh Drs. Soedarto yang menambahkan bahwa para pendiri bangsa telah mencantumkan pendidikan karakter pada Pembukaan UUD”:…mencerdaskan kehidupan bangsa….” Begitu pula adanya dengan WR Supratman yang menulis lirik lagu kebangsaan”…bangunlah jiwanya….” Oleh karena itu, karakter itu harus dibangun melalui kemampuan pendidikan dalam mewujudkan amanah tersebut. Pastor Maessen menunjukkan bagaimana ia sebagai orang luar Indonesia begitu mencintai tradisi tenun di Sintang dan hal ini seharusnya dimiliki oleh generasi muda bangsa. Pay Jarot sujarwo mengajak peserta untuk menggunakan sastra sebagai salah satu cara menguatkan karakter bangsa yang luhur dengan menghadapi langsung kategori moral dan social dengan segala parodi dan ironinya. Dalam sambutan penutupannya DRs Salmon Batuallo menyatakan bahwa UUD 1945, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI merupakan jati diri dan karakter bangsa yang harus diamalkan dan dipedomani dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.