Konsinyering Pencatatan WBTB Indonesia

Konsinyering Pencatatan WBTB Indonesia

 

            Sebagai tindak lanjut program pencatatan Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia serta pengembangan website peta kebudayaan Indonesia, pada bulan November 2011 telah diadakan Konsinyering Pencatatan WBTB Indonesia di Hotel Red Top Jakarta, yang diselenggarakan oleh Ditjen Nilai Budaya, Seni dan Film (NBSF). Kegiatan yang dibuka oleh Direktur Tradisi dan Seni Rupa ini dimulai dengan pemaparan materi oleh beberapa orang narasumber, yaitu: (1) Bapak Harry Waluyo, yang mengulas kembali Konvensi UNESCO 2003 tentang Perlindungan WBTB serta menjelaskan langkah-langkah verifikasi terhadap data karya budaya yang telah dicatat secara manual. (2) Bapak Timbul Sinaga, yang memaparkan materi tentang sistem pengajuan hak cipta serta perlindungan Hak Kekayaan Intelektual terhadap produk budaya. (3) Bapak Basuki Antariksa yang menyampaikan permasalahan di seputar peluang dan tantangan perlindungan Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional.Pemaparan materi dan diskusi ini diikuti oleh penangung jawab dan koordinator pelaksana pencatatan WBTB yang mewakili satuan kerja dan UPT di lingkungan Ditjen NBSF, serta beberapa undangan sebagai representasi dari unsur pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan perguruan tinggi.

            Rangkaian acara berikutnya dikhususkan untuk para koordinator pelaksana pencatatan WBTB yang mewakili beberapa direktorat di lingkungan Ditjen NBSF dan BPSNT se-Indonesia. Pada konsinyering kali ini dilakukan praktik meng-input data karya budaya yang telah dicatat secara manual ke dalam petabudaya.com, yaitu sebuah situs yang merupakan perpaduan antara direktori WBTB dengan portal news. Diharapkan keberadaan petabudaya.com ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak secara lebih optimal sebagai bagian dari upaya menghimpun data WBTB Indonesia dan referensi kebudayaan yang ada di Indonesia. Informasi yang tersedia di dalam direktori WBTB meliputi deskripsi tentang unsur-unsur kebudayaan, yakni: kesenian, bahasa, upacara adat, kuliner, pakaian adat, arsitektur tradisional, permainan tradisional, kearifan lokal, dan peralatan hidup, dari seluruh wilayah yang ada di Indonesia (provinsi, kabupaten/kota), baik berbentuk teks, foto, maupun film.