Upacara tradisional Sandou Ari

Provinsi: 
Kalimantan Barat

Upacara tradisional

Sandou Ari

Upacara tradisional Sandou Ari Kalimantan Barat

Upacara ini berasal dari Suku Dayak Iban di Kecamatan Batang Lupar, Kapuas hulu. Sandou Ari merupakan upacara meminta berkat

Pihak-pihak terlibat

Empu rumah (pemilik hajat), pangabang (tamu undangan – tamu yang diundang sesuai kemampuan si empunya hajat) dan empat orang pemimpin upacara (Penuduk, Bedara Kelingkang, Bedara Antu Kepapas, dan Nunu Getah)

Tahapan penyelenggaraaan

Persiapan upacara dilakukan tujuh hari sebelumnya yaitu seluruh warga menyiapkan perlengkapan untuk upacara seperti membuat rumah dan tempat pemotongan babi, dan memperiapkan sesaji seperti membuat kemang, kue cucur, ketupat kecil-kecil, sirih dan lain sebagainya. Pada masa persiapan ini, juga dilakukan musyawarah untuk menentukan siapa saja yang diundang dan siapa pengantar undangan. Setelah diputuskan, undangan segera diantar dengan cara membawa sesajian dalam satu wadah dan diberikan kepada kepala rumah betang yang diundang. Kepala rumah betang kemudian akan membagikan sesaji ini kepada setiap warganya meski sedikit-sedikit (hanya sebagai simbol undangan). Selain kepada warga, undangan juga diberikan kepada para gadis yang akan membantu upacara nanti dengan memberikan kain songket berbentuk syal.

Tujuan

Upacara ini diadakan untuk mendapatkan berkat dari Batara

Waktu pelaksanaan

Upacara ini bisa dilakukan kapanpun asalkan tidak bersamaan dengan upacara adat lain dan tidak bersamaan dengan musim berladang. Upacara ini harus dilaksanakan pada tengah hari. Hal ini terkait dengan nama Sandau yang berarti tengah atau pertengahan.

Tempat

Rumah Betang

Penyelenggara teknis upaccara tradisional

Upacara mulai dilaksanakan tepat pukul 12.00. Tuan rumah akan menyambut tamu di halaman rumah betang. Di depan tangga, tuai rumah menyuguhkan tuak dan disemburkan kepada tamu yang hadir sebagai tanda pemberkatan. Bersamaan dengan hal ini para ibu dan gadis-gadis turun tangga dan membunyikan musik penyambutan tamu sambil mengelilingi tamu-tamu tersebut.

Acara selanjutnya adalah penyembelihan seekor ayam. Secara simbolis darah ayam akan dipercikkan dengan menggunakan bulu ayam kepada tamu dan juga dipercikkan ke tangga rumah betang. Para tamu kemudian menaiki rumah betang dengan diiringi musik. Para tamu disuguhi tuak dan dipersilakan duduk di teras rumah betang. Setelah para tamu diberkati dilanjutkan dengan pemilihan pemimpin upacara yang dilakukan dengan mengibaskan ayam di atas kepala orang yang ditunjuk.

Empat pemimpin yang ditunjuk duduk membelakangi kandang babi dan dihadapannya diletakkan sesajian. Tuan rumah kemudian menggunakan gelang tembaga sebagai tanda bahwa mereka dipercaya memiliki kemampuan untuk memimpin upacara. Selanjutnya para pemimpin upacara mulai mengisi sesaji di atas kelingkang sementara tuai rumah dan penghidang makanan menyuguhkan tuak kepada Batara dan nenek moyang. Sesaji yang dibuat oleh pempimpin upacara nantinya akan ditempatkan di samping kandang babi (sesaji ini tidak boleh diganggu selama tiga hari), sesaji untuk hantu jelek (ditempatkan di tengah kandang), sesaji di samping tangga naik ke atas atap rumah (sesaji dilengkapi telur yang dilemparkan dari atas atap dan diperebutkan masyarakat).

Selanjutnya pemimpin upacara akan menyembelih babi dimana hati babi akan ditaruh dipiring dan diberikan kepada seorang tokoh adat yang dipercaya bisa membaca hati babi tersebut. Jika hati babi tersebut mulus maka tuan rumah dipercaya akan mendapat berkat dari batara namun jika tidak mulus maka tuan rumah harus mengulang upacara ini. Babi kemudian dipotong pada sebelah paha dan ditempatkan dipiring. Pemimpin akan membacakan matera dalam posisi sumpit songkoh (membaca mantera dengan memegang sumpit dan beras kuning). Selesai membaca mantera, para pemimpin upacara meletakkan parangnya ke kayu tempat penyembelihan babi (selabau). Pemimpin yang terakhir membaca mantera akan memotong kayu selabau. Dengan pemotongan kayu ini maka upacara dinyatakan selesai dan diakhiri dengan permainan alat musik gendang oleh tuai rumah, pemimpin upacara dan tamu yang hadir.

Perlengkapan upacara tradisional

Ayam, babi, sesajian (sirih pinang, gambir, tembakau, rendai, beras kuning, tumpi, lemang, ketupat, telur dll), kandang babi, tempat penyembelihan babi, sumpit dan lain sebagainya. Dalam upacara ini juga menggunakan Tiang kambong yaitu perlambang tiang bendera kayangan yang terdiri dari lima warna yaitu merah (keberanian), hijau (kesuburan), kuning (persatuan dan perdamaian), hitam (pelindung), putih (kesucian hati)

Pantangan dan tabu

Tidak ada pantangan khusus, hanya saja selama upacara berlangsung tidak boleh membuat keributan

Lambang atau makna yang terkandung dalam upacara

Upacara ini mengandung makna adanya hubungan antara Tuhan dan manusia dimana manusia mengucapkan syukur kepada Tuhan karena telah berhasil dalam hidupnya. Upacara ini juga mengandung nilai hubungan antara sesama manusia yang diperlihatkan dengan penghargaan terhadap para tamu.

Sumber data

Asnaini. 2005. Upacara Adat Sandou Ari Pada Masyarakat Iban di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Pontianak : Departemen Kebudayaan dan Pariwisata