Senggayung

Provinsi: 
Kalimantan Barat

Senggayung adalah sejenis alat musik tradisional dari Kab. Ketapang Kalimantan Barat. Alat musik senggayung dimainkan dalam masa musim buah dan panen di ladang (pada saat mengadakan acara ngumpan buah).

 

 

Sejarah: 

ada sebuah legenda yang menceritakan asal usulnya orang-orang di daerah Ketapang bermain music senggayung. Tokoh dalam cerita itu adalah Soema. Pada suatu har Soema melanglang di tengah hutan dan menemukan buah pekawai dan kemudian ia menjolok buah pekawai tu. Buah pekawai itu dibawanya pulang dan digantungkan di dinding. Rupanya buah pekawai itu merupakan jelmaan dari Dewi Sri yang merasa kesepan di tengah hutan. Jelmaan Dewi Sri itu merasa senang dibawa pulang dan disimpan di dalam rumah Soema. Maka secara diam-diam Jelmaan Dewi Sri yang berupa buah pekawai itu membantu Soema untuk membereskan rumahnya setiap hari. Lama-kelamaan Soema tahu kalau setiap hari yang membereskan rumahnya adalah Dewi Sri yang merupakan jelmaan dari buah pekawai yang dibawanya pulang dari hutan dan digantung di dinding rumahnya. Selanjutnya sang Dewi Sri yang merupakan bidadari menjelaskan kepada Soema, bahwa tugasnya adalah menolong manusia untuk menjaga dan memelihara buah untuk makan sehari-hari manusia. Selanjutnya bidadari tersebut mengaku bahwa namanya adalah Dewi Sri. Dewi akan tinggal bersama manusia, mengadakan acara ngumpan buah dengan bunyi-bunyian musik sebagai penghibur Dewi Sri. Selanjutnya orang mengatakan bahwa musik senggayung lah yang dibunyikan untuk menghibur Dewi Sri itu. Di kalangan masyarakat petani music senggayung dikenal sebagai music Dewi Sri.

Bahan pembuatan: bambu

Cara pembuatan: Untuk membuat senggayung diperlukan alat-alat: parang, gergaji, pisu, kain lap, kertas ambril, warna, dan bangku kerja. Adapun cara-caranya adalah sebagai berikut:

1. Bambu satu batang yang terdiri dari 12  ruas dipotong menjadi 6 bagian, masing-masing 2 ruas. Beri tanda agar selalu berurutan dari pangkal hingga kearah ujungnya.

2. Kemudian bamboo diikat secara berkelompok

3. Bambu direbus atau dimasukkan dalam kolam atau parit untuk direndam

4. Bambu ditiriskan di tempat teduh.

5. Bambu dibersihkan dengan lap kain agar tanah yang melekat lepas dari kulit bamboo. Lingkaran ruas dibersihkan dengan pisau, usahakan jangan sampai terkelupas kulitnya. Sampah yang ada dalam tabung dalam perlu dibersihkan dengan lap.

Adapun proses pembuatannya adalah sebagai berikut:

a. Nada yang akan dihasilkan dari senggayung yang akan dibaut adalah nada dalam tangga nada pentatonis. Nada dalam pentatonic Kalbar ada  lima.

b. Alat musik senggayung dalam satu set terdiri dari 6 buah yang mencakup satu oktaf tangga nada pentatonic. Dalam alat music senggayung bagian-bagian perangkatnya ada 3 yaitu: senggayung anak (nada tinggi), senggayung kait (nada tengah) dan senggayung induk (nada rendah) Dengan demikian pasangan nada dalam tiap senggayung ada beberapa kemungkinan.

c. Bambu yang terdiri dari dua ruas dikerat dari pertengahan menuju ke atas. Keratan dari bawah melewati ruas, sehingga tabung terbuka. Jangan terlalu banyak kerat supaya setelah dites nadanya masih dapat dikurangi utnuk mendapatkan nada yang tepat.

d. Nada dites dengan meniup dan kita dengarkan gema nadanya. Cara lain untuk mengetes yaitu dengan pukulan jari telunjuk di belakang punggung bambu.

e. dapat juga ditest dengan alt pemukul atau stick kecil. Nadanya disesuaikan dengan keperluannya. Gunakan garputala atau pitch instrument.

f. Kalau hendak membuat senggayung yang terdiri dari lima set anak, hendaknya dicarikan bambu yang sama. Sama posisi ruasnya, sama tebalnya dan sama panjang ruasnya, walaupun agak sulit.

g. Jumlah set senggayung yang dapat dipadukan dalam satu ansamble adalah:

- Jumlah terbanyak pada senggayung anak

- Jumlah paling sedikit pada senggayung induk

- Jumlah sedang di antaranya untuk senggayung kait.

Bagian dan cirri:

ada 3 bagian, yaitu:

1. Tabung senggayung anak

2. Tabung Senggayung kait

3. Tabung senggayung induk.

Cirinya: notasi senggayung atau partisi senggayung hamper tidak pernah ada. Para pemusik bermain berdasarkan feeling.

 

Sumber data: Suma, Fransiskus. 2006. “Deskripsi Seni Musik Alat Musik Idiophone Senggayung Kalimantan Barat”. Ketapang: naskah tulisan belum diterbitkan.

Penginput data: Neni Puji Nur Rahmawati