ULAP DOYO Keindahan Kain Tenun Suku Dayak Benuaq dan Pewarnaannya

Pengarang: 

Dr. H. HASYIM, M.Pd

Penerbit: 

CV. JENDELA SASTRA INDONESIA PRESS

Tahun Terbit: 

2019

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Timur
Rak: 

RKE - 746.1 (740-749)

ISSN/ISBN: 

978-602-0749-38-9

Jumlah Halaman: 
96

Masyarakat Dayak adalah suku asli Pulau Kalimantan, dengan ciri kebudayaan dan karya seni yang sangat tinggi, sebagai pusaka leluhur yang diwariskan secara turun temurun. Di tengah arus modernisasi dan perkembangan saat ini, hal tersebut banyak mengikis dan merubah semua aspek kehidupanya. Salah satunya nampak pada salah satu karya budaya Suku Dayak Benuaq yaitu Tenun Ulap Doyo. Tenun Ulap Doyo atau biasa dikenal dengan Ulap Doyo, merupakan warisan peradaban tingkat tinggi masyarakat Dayak Benuaq di Pedalaman Kalimantan Timur. Hal ini disebabkan karena Ulap Doyo tidak hanya menyangkut budaya “berpakaian” semata, namun merupakan teknologi tekstil dan wastra (perkainan) yang telah berkembang cukup pesat di zamannya. Bahan-bahan dan peralatan yang digunakan, cara pengolahan, serta teknik pewarnaannya sangat ramah lingkungan dan berbasis kearifan lokal. Ragam motifnya yang rumit dan beraneka ragam, banyak diilhami dari kepercayaan dan kebiasaan hidup mereka sehari-hari. Filosofi dan pemaknaan dalam pemakainnya, merupakan manifestasi dari ketinggian karya budaya dan seni penciptaan mereka. Namun ironi dalam perkembangannya, bahan bakunya berupa tanaman Doyo, semakin langka diperoleh karena hilangnya lahan untuk area pertumbuhannya. Pengrajin dan pembuatannya juga makin sedikit, meskipun namanya semakin populer, tetapi justru nilai-nilai orisinalitas dan keaslian Ulap Doyo makin terkikis dengan kain berbahan sintesis dan pewarna kimia.