SENI MUSIK SENGGAYONG ORANG BUKIT SUKADANA

Pengarang: 

AGUS KURNIAWAN DAN JUMADI GADING

Penerbit: 

FORUM PENULIS KEHIDUPAN

Tahun Terbit: 

2018

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Barat
Rak: 

RKE - 781.6 (780-789)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
70

Orang bukit laut, begitu sebutan masyarakat pertama yang mendiami pegunungan sekitar Sukadana di masa lalu. Orang bukit inilah, yang diyakini pertama kali mengembangkan alat musik senggayong. Secara berkelompok, memainkan alat musik ini untuk menghilangkan rasa kesunyian yang mendera mereka. Untuk mendapatkan bunyi senggayong yang bagus, bamboo atau buloh  yang akan dijadikan senggayong haruslah yang pilihan. Diantaranya batang buloh yang diambil diantara rumpun bambu yang terkena sinar matahari. Pembuatan senggayong tidak boleh dicampur dengan batang bambu lain, karena bunyi di bambu berbeda akan menghasilkan bunyi yang berbeda pula. Bambu Pering (Poring) digunakan untuk nada yang nyaring (Pe’anak dan Pengoyet). Bambu yang disebut buluh, yang ruasnya panjang dan kulitnya tipis untuk Pe’Indai. Ruas atau ukuran bambu juga harus diperhatikan ketika proses pemilihannya. Ukuran bambu yang dijadikan senggayong berbeda-beda sesuai fungsinya. Setelah bentuk senggayong didapat, kemudian senggayong pertama dipukul dengan golok yang dipegang oleh pembuat. Tujuannya adalah untuk mendengarkan bunyi dari senggayong tersebut. Setelah bunyinya tidak kedengan fals, barulah dikerjakan senggayong kedua, ketiga dan seterusnya. Teknik memainkan alat musik ini yaitu pasangan alat bernada lebih rendah dipegang pada tangan kiri, dan yang bernada lebih tinggi pada tangan kanan yang juga berfungsi sebagai pemukul. Orang Dayak Pesaguan menyebut reportoir musik senggayong sebagai ketitik. Maka orang Sukadana menyebutnya sebagai lagu senggayong saja. Nama-nama pukulan senggayong diantaranya yaitu timang buah, tontet, ujan deras, pongkakah dan sebagainya. Adapun jenis lagu senggayong yang sering dimainkan pada saat musim durian antara lain monggak, tungtet, timang buah, dung kakah, hujan deras.