REO SEBAGAI PUSAT PERDAGANGAN DI FLORES BARAT

Pengarang: 

I MADE SUMARJA, I MADE PURNA, KADEK DWIKAYANA, DWI BAMBANG SANTOSA

Penerbit: 

BPNB BALI

Tahun Terbit: 

2018

Daerah/Wilayah: 
Nusa Tenggara Timur
Rak: 

380.14 (380-389)

ISSN/ISBN: 

978-602-356-221-3

Jumlah Halaman: 
163

Opini umum mengatakan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yaitu kumpulan pulau-pulau yang dipisahkan oleh laut. Pelabuhan mempunyai peran penting bagi Indonesia karena Indonesia merupakan negara kepulauan dengan dua per tiga wilayahnya adalah perairan dan terletak pada lokasi yang strategis karena berada di persinggahan rute perdagangan dunia. Pelabuhan merupakan salah satu rantai perdagangan yang sangat penting dari seluruh proses perdagangan, baik itu perdagangan antar pulau maupun internasional. Ada catatan yang menyebutkan bahwa ada pelayaran dari Kerajaan Bima berlabuh di Reo Kedindi tanggal 11 Maret 1845. Demikian juga masuknya misionaris ke wilayah Manggarai untuk penyebaran agama juga melalui pelabuhan di Reo. Selain sebagai tempat untuk berlabuhnya pasukan perang, Pelabuhan Reo juga sudah sejak lama digunakan untuk kegiatan perdagangan baik oleh masyarakat Manggarai dan sekitarnya maupun para pedagang antar pulau. Pada saat ini, Reo merupakan kota pelabuhan yang memiliki peluang untuk mengoptimalkan hasil laut, dan menjadi pintu masuk barang-barang dari luar yang hidup dari pertanian, terutama tanaman bawang merah sehingga berpeluang untuk diedukasi dalam teknik bertani maupun diversifikasi tanaman.