PEUTJOET (KERKHOF) DAHULU, KINI DAN NANTI

Pengarang: 

NASRUL HAMDANI

Penerbit: 

BPNB ACEH

Tahun Terbit: 

2017

Daerah/Wilayah: 
Nanggroe Aceh Darussalam
Rak: 

SKO - 959.8 (950-959)

ISSN/ISBN: 

978-602-9457-66-7

Jumlah Halaman: 
35

Istilah Peutjoet dan kerkhof semula merupakan dua hal yang berbeda. Semula, dua istilah dalam bahasa Aceh dan Belanda itu saling takterhubung, tetapi kelak bersanding menjadi Peutjoet Kerkhof pada 1883/1893 sebagai nama bagi kompleks pemakaman bagi lebih dari 2.200 prajurit Belanda dapat dihitung selama Perang Belanda di Aceh berkecamuk. Bagi Aceh dan Belanda, pekuburan militer ini memiliki nilai penting. Orang Aceh membuktikan bahwa geutanyo (kita) tidak mudah ditaklukkan, bahkan Belanda harus kehilangan Jenderal pada pertempuran pertama, suatu hal yang jarang terjadi dalam sejarah perang di dunia. Bagi Belanda Aceh adalah medan tempur yang menguras pikiran, tenaga dan keuangan negeri itu. Jadi wajar jika Aceh dengan segala yang melekat pada daerah ini begitu membekas bagi orang Belanda. Buku ini menceritakan mengenai Peutjoet Kerkhof dari tiga babak sejarah Aceh dalam rentang waktu panjang yang tersimpul di Kampung Sukaramai. Oleh sebab itu, cerita mengenai Peutjut, Putra Mahkota Aceh yang malang, Perang Belanda di Aceh yang berlumuran darah serta kerkhof yang menjadi saksi bisu dari rentetan peristiwa itu tidak bisa dipisahkan karena terikat dalam satu ruang yaitu Peutjoet Kerkhof. Ikatan inilah yang membuat Peutjoet, Peutjut Kerkhof  dan ‘kerkhof’ penting kedudukannya dalam memahami perubahan dan kesinambungan di Aceh. Cerita maupun visi Aceh di masa depan bergantung bagaimana cara orang Aceh memahami sejarah, diri serta daerah Aceh sebagai ruang sejarah yang terus berkembang.