PAKAIAN ADAT SEBAGAI IDENTITAS ETNIS :  REKONSTRUKSI IDENTITAS SUKU TIDUNG ULUN PAGUN

Pengarang: 

NENI PUJI NUR RAHMAWATI, SEPTI DHANIK PRASTIWI

Penerbit: 

DIVA PRESS

Tahun Terbit: 

2018

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Utara
Rak: 

TDK - 391 (390-399)

ISSN/ISBN: 

978-602-391-675-7

Jumlah Halaman: 
116

Suku Tidung lebih dikenal sebagai suku Dayak yag telah beragama Islam. Namun di antara suku Tidung terdapat kelompok masyarakat yang mengidentifikasikan dirinya bukan Dayak dan menyebut dirinya sebagai Tidung Ulun Pagun. Mereka yang menyebut dirinya sebagai Tidung Ulun Pagun dikenal sebagai suku Tidung beragama Islam dan hidup dengan budaya pesisir. Namun ternyata identitas sebagai pemeluk Islam dan masyarakat pesisir dirasakan belum cukup mencitrakan identitas kesukuan suku Tidung Ulun Pagun. Pada perkembangannya, suku Tidung Ulun Pagun juga memiliki identitas lain  yang merujuk pada konteks budaya yaitu melalui pakaian adat. Pakaian adat yang terdiri dari Pelimbangan dan Kurung Bantut (pakaian sehari-hari), selampoy (pakaian adat), Talulandom (pakaian resmi), dan Sina Beranti (pakaian pengantin) telah menjadi karya budaya milik suku Tidung Ulun Pagun menemukan momen yang tepat seiring dengan perubahan status Tarakan dari kota administratif menjadi kotamadya, dimana pakaian tersebut kemudian diakui sebagai pakaian daerah Kota Tarakan. Pakaian adat suku Tidung sebagai identitas etnis dan sekaligus sebagai identitas daerah Kota Tarakan memperlihatkan bagaimana rekonstruksi identitas dapat terjadi. Sifat identitas yang cair dan selalu dalam proses menjadikan identitas bukanlah sesuatu yang stagnan, namun akan terus mengalami perubahan.