MENGADU NASIB DI KEBUN KARET KEHIDUPAN BURUH ONDERNEMING KARET DI ACEH TIMUR, 1907 – 1939

Pengarang: 

MAWARDI UMAR

Penerbit: 

BPNB BANDA ACEH

Tahun Terbit: 

2015

Daerah/Wilayah: 
Nanggroe Aceh Darussalam
Rak: 

SEK - 900 (900-909)

ISSN/ISBN: 

978-602-9457-54-4

Jumlah Halaman: 
211

Studi ini membahas tentang komunitas dalam suatu wilayah khusus di Aceh, yaitu komunitas buruh perkebunan karet di Aceh Timur pada masa kolonial. Perkembangan perkebunan karet di Aceh Timur berkaitan erat dengan ekspansi modal Swasta Barat pada awaal abad ke-20. Karena luas dengan penduduk yang jarang menyebabkan ekspansi perkebunan karet di Aceh Timur berkembang sangat cepat. Sedangkan buruh onderneming karet di Aceh Timur adalah buruh migran yang sebagian besar didatangkan dari luar Jawa untuk memenuhi kebutuhan perkebunan karet Swasta Barat yang berkembang pesat sejak tahun 1907. Dan kehadiran mereka ini tidak tersedianya buruh lokal. Berdasarkan suku bangsa dan jenis pekerjaan, buruh migran yang bekerja di Aceh dapat dikategorikan menjadi 3, yaitu buruh Jawa yang umumnya bekerja pada onderneming karet dan pertambangan di Aceh Timur; buruh Cina bekerja pada perkebunan tembakau dan proyek pemerintah; dan suku pribumi lainnya bekerja pada onderneming-onderneming perkapalan dan kehutanan di Sabang dan Simeuleu. Dan ini juga terjadi pada tingkat upah minimum harian. Dengan ikatan kontrak yang mengacu pada koeliordonantie 1880, mereka telah menjadi buruh kontrak yang harus mencurahkan kekuatan fisik untuk keuntungan onderneming dengan upah hanya cukup untuk tetap bertahan hidup. Kontrol buruh dengan koeliordonantie, yang sangat ketat dan pelanggaran terhadapnya dapat berakibat pada hukuman dan tidak jarang pada tindak kekerasan, menjadikan buruh onderneming karet di Aceh Timur tidak punya pilihan selain harus menuruti keinginan perusahaan. Dan menyebabkan terciptanya kemiskinan baru di wilayah ini.