INTEGRASI SOSIAL TRANSMIGRAN BALI DI DESA KERTA BUANA, KEC. TENGGARONG SEBERANG, KAB. KUTAI KERTANEGARA 1980-2000AN

Pengarang: 

JUNIAR PURBA, DANA LISTIANA, SRI MURLIANTI

Penerbit: 

BPNB KALBAR

Tahun Terbit: 

2018

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Timur
Rak: 

KTI - 900 (900-909)

ISSN/ISBN: 

978-602-391-672-6

Jumlah Halaman: 
208

Lokasi L4 atau Kerta Buana termasuk salah satu lokasi pemukiman transmigrasi yang terletak di Teluk Dalam, Kabupaten Kutai. Adapun mayoritas transmigran yang tinggal di lokasi tersebut berasal dari Pulau Bali. Transmigrasi mulai dilaksanakan pada akhir tahun 1980. Mereka membawa kehidupan sosial budaya dari tanah asal, membangun kehidupan baru berdampingan dengan transmigran Etnis Lombok dan juga transmigran lokal Etnis Kutai dan Dayak. Integrasi sosial transmigran Bali di lokasi baru mengalami psaang surut mengikuti perubahan-perubahan konteks sosial, budaya, politik, ekonomi lokal dan nasional. Perjuangan membangun identitas baru sebagai ‘Orang Bali di Kerta Buana’ melalui dentifikasi diri, positioning dan interaksi sosial berlangsung kompleks dan dinamis. Tahun 1980-1998 adalah masa-masa perjuangan memulai hidup baru, membangun identitas diri sebagai ‘Orang Bali di Kerta Buana’, membangun integrasi sosial bersama transmigran Lombok dan para trans lokal. Memasuki tahun 1990-1997 bisa dikatakan tercapai integrasi sosial baru, dimana bertahan hidup dan membangun kawasan pertanian dari rimba rawa Kerta Buana. Integrasi sosial yang lama terbangun ini kemudian mengalami pergeseran yang signifikan mamasuki tahun 1997 ketika desas-desus perusahaan batubara akan mulai menerapkan open pit mining. Tragedy lahan II di sekitar tahun 2000 menjadi titik awal dimana sebagian besar transmigran Bali melepas lahan II dengan harga sangat murah untuk segera dijadikan lokasi eksplorasi tambang. Eksplorasi open pit mining secara legal dimulai tahun 2003 di lokasi eks Lahan II yang memeberi dampak pada lokasi sawah petani di Blok B, yang mayoritas dimiliki oleh para transmigran Lombok. Eksplorasi open pit mining menjadi titik balik kejayaan integrasi sosial dan kejayaan masa pertanian di Kerta Buana. Walaupun dengan proses panjang dan menghadapi perlawanan transmigran yang Bali, dengan berbagai strategi pada akhirnya tambang batubara mengepung Desa Kerta Buana. Ada pergeseran pola-pola konflik semenjak open pit mining mulai beroperasi. Tahun 2003-2005 mulailah tak terkendali, warga transmigran Bali mulai menyerah melepaskan tanah ke perusahaan, terutama ketika dihadapkan dengan konflik rasial dengan warga transmigran lokal. Integrasi sosial lama yang dulu terbagun dan berhasil menampilkan kekuatan identitas ‘Orang Bali di Kerta Buana’ kini terancam hilang seiring desakan korporasi tambang.