INTEGRASI SOSIAL MASYARAKAT TRANSMIGRASI JAWA :  DI DESA PURWOSARI KECAMATAN TAMBAN KABUPATEN BARITO KUALA, PROPINSI KALIMANTAN SELATAN

Pengarang: 

LISYAWATI NURCAHYANI, JUNIAR PURBA

Penerbit: 

BPNB KALBAR

Tahun Terbit: 

2018

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Selatan
Rak: 

KSE - 959.8 (950-959)

ISSN/ISBN: 

978-602-391-678-8

Jumlah Halaman: 
130

Perkembangan dan perubahan terjadi karena adanya interaksi yang terjadi antara masyarakat trans dengan masyarakat lokal khususnya Banjar. Hubungan interaksi secara kontinyu menghasilkan akulturasi dan asimilasi yang pada akhirnya akan terintegrasi satu sama lain dan memunculkan mix culture. Perubahan terjadi dalam bidang budaya terutama pada kelahiran, perkawinan, dan kematian. Adat istiadat tetap dalam wadah Jawa tetapi isinya telah bercampur dengan budaya Banjar, terutama nilai-nilai budaya Islam. Maka dalam perkembangannya sekarang yang nampak adalah budaya mix culture bukan lagi budaya Jawa atau Banjar. Mix culture dalam bidang ekonomi terjadi bukan hanya dalam kepemilikan lahan, pekarangan dan rumah saja, tetapi juga terlihat dari sistem pertanian penduduk trans yang mengadopsi sistem pertanian pasang surut karena lahan yang harus dikerjakan adalah lahan gambut. Di bidang sosial budaya, terlihat dari interaksi antara penduduk trans dengan masyarakat setempat yaitu Banjar dan Dayak. Hubungan tolong menolong dan bergotong royong, saling membantu dalam membuat rumah atau fasilitas umum menjadi perekat hubungan diantara mereka. Dalam bidang budaya atau adat istiadat, terlihat dari adat kelahiran, perkawinan, dan kematian tidak lagi cenderung ke adat Jawa asli, tetapi sudah bernuansa budaya Islam. Begitu juga dalam bidang kesenian wayang, ludruk, ketoprak sudah dinikmati pula oleh masyarakat Banjar dan Dayak dan sudah mengangkat cerita tentang budaya Islam. Di bidang kesenian juga nampak terjadi mix culture, terutama dengan masyarakat unsur-unsur budaya Islam dalam cerita yang ditampilkan. Namun saying, perkembangan kesenian Jawa di daerah Purwosari mengalami kemunduran, baik dalam kendala regenerasi yang tidak dilakukan secara profesional, juga disebabkan pendanaan yang hanya pada swadaya masyarakat saja. Sementara dari sisi pemerintah belum nampak.