DUNIA MARITIM INDONESIA DALAM PERSPEKTIF BUDAYA

Pengarang: 

AGUS HERYANA, MARTHEN M. PATTIPEILOHY, EVAWARNI, NOOR SULISTYO BUDI, M. NATSIR, RAODAH

Penerbit: 

BPNB MAKASSAR

Tahun Terbit: 

2017

Daerah/Wilayah: 
Sulawesi Selatan
Rak: 

306 (300-309)

ISSN/ISBN: 

978-979-3570-95-2

Jumlah Halaman: 
150

Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan  merupakan salah satu lembaga pemerintah yang bertugas melakukan penelitian dengan menitik beratkan pada kajian budaya maupun sejarah. Budaya maritim sangat kaya dengan nilai-nilai yang masih relevan dengan kondisi saat ini, seperti nilai kejujuran, solidaritas, ketangguhan dan nilai religius. Selain bertugas untuk melakukan penelitian di bidang sejarah dan budaya, BPNB juga melakukan penyebarluasan informasi terkait hasil-hasil penelitian. Salah satu wujud dari penyebarluasan informasi, maka BPNB melakukan seminar nasional yang dihadiri oleh BPNB se-Indonesia, dengan tema “Dunia Maritim Indonesia dari Perspektif Sejarah dan Budaya”, yang ide awal dari tema ini adalah untuk mendukung program nawacita yang ingin menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Muara hasil seminar tersebut, diterbitkan dalam bentuk buku yang berjudul Dunia Maritim Indonesia Dalam perspektif Budaya, Jilid 1. Adapun tulisan yang ditampilkan dalam buku ini meliputi Agus Heriana menjelaskan mengenai ikon kemaritiman melalui karya sastra berupa naskah yang didalamnya menjelaskan pemahaman spiritual dengan memakai simbol-simbol kemaritiman. Marthen M. Pattipeilohy membahas tentang teknologi penangkapan ikan pada masyarakat di Pulau Aru, khususnya perahu tradisional yang dikenal dengan perahu belang. Kemudian Evawarni dalam makalahnya menjelaskan mengenai masyarakat Pesisir di Kepulauan Riau, juga berkaitan dengan pengetahuan masyarakat terkait dengan tanda-tanda alam yang kemudian menjadi patokan mereka dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari sebagai nelayan. Berbeda dengan penjelasan Noor Sulistyo Buku dalam makalahnya yang membahas tentang masyarakat Jawa yang melestarikan ajaran Hindu dengan melakukan upacara life cycle, khususnya upacara kematian dengan melakukan pembakaran jenazah dan abu jenazah dimasukkan ke dalam goci-gocu dan dilarungkan ke pantai, yang dikenal dengan upacara palebon atau ngaben. Kemudian makalah dari M. Natsir menjelaskan tradisi masyarakat pesisir di Kalimantan Barat. Terakhir dalam buku ini yaitu makalah dari Raodah, menjelaskan orang Bajo di Kabupaten Bone, khususnya berkaitan dengan sistem pengetahuan yang mereka miliki berkaitan dengan proses penangkapan ikan di laut, termasuk pengetahuan tentang flora dan fauna, serta tanda-tanda alam yang dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai sebuah komunitas yang sangat akrab dengan kehidupan laut.