DALIHAN NA TOLU PADA MASYARAKAT BATAK TOBA DI KOTA MEDAN

Pengarang: 

HARVINA, FARIANI, DHARMA KELANA PUTRA, HOTLI SIMANJUNTAK, DENI SIHOTANG

Penerbit: 

BPNB ACEH

Tahun Terbit: 

2017

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Utara
Rak: 

UUA - 392.5 (390-399)

ISSN/ISBN: 

978-602-9457-71-1

Jumlah Halaman: 
98

Dalihan Na Tolu sebagai tungku kehidupan masyarakat Batak Toba berperan untuk menempatkan posisi setiap individu dalam 3 tungku untuk menopang tatanan hidup kekerabatan masyarakat Batak. Dalam ajaran adat Dalihan Na Tolu ditentukan dengan adanya tiga kedudukan fungsional , yang meliputi 1) Hula-hula; 2) Boru; dan 3) Dongan Tubu. Ketiga inti tersebut merupakan aspek vital dalam ajaran Dalihan Na Tolu. Dalihan Na Tolu memang memiliki peran yang vital dalam adat. Ia dapat berfungsi sebagai penentu posisi adat seseorang dalam bertutur. Dan sudah sepantasnya generasi Muda Batak mengetahui dan mempelajari adat ini dalam proses interaksi mereka. Hal ini dimaksudkan agar kaum muda tidak terjebak dalam pernikahan semarga. Selain itu, agar pada saat mereka berada di luar kampung atau tempat asing lainnya. Dengan itu, dia dapat memperoleh penghidupan dari sesama warga Batak di perantauan. Suatu kelebihan yang dimiliki oleh masyarakat Batak yang tinggal di perantauan bahwa mereka akan memiliki perkumpulan yang mereka sebut dengan naposo bulung (perkumpulan pemuda). Melalui naposo bulung ini para pemuda yang tinggal di kota besar, seperti Medan akan banyak belajar mengenai adat. Ketaatan masyarakat Batak dalam melaksanakan ajaran adat Dalihan Na Tolu memberikan pengharapan kepada masyarakat Batak untuk mencapai nilai hatuaon yaitu konsep kebahagiaan dalam wujud nilai hasangapon (kehormatan) dalam diri orang tersebut.