BHUMI WURAWAN

Pengarang: 

T.M. RITA ISTARI, SUGENG RIYANTO, HERY PRISWANTO, AANG PAMBUDI NUGROHO

Penerbit: 

BALAI ARKEOLOGI D.I YOGYAKARTA

Tahun Terbit: 

2018

Daerah/Wilayah: 
Daerah Istimewa Yogyakarta
Rak: 

902 (900-909)

ISSN/ISBN: 

978-602-19675-6-0

Jumlah Halaman: 
272

Bunga rampai berjudul “Bhumi Wurawan” ini merupakan hasil penelitian mendalam para peneliti Balai Arkeologi D.I. Yogyakarta yang berangkat dari kegelisahan, tentang betapa rumitnya merajut benang kusut bernama sejarah kuna Indonesia. Beberapa artikel yang disampaikan dalam buku ini, merupakan hasil penelitian dan penemuan terbaru arkeologi, bukan hanya sarat akan makna dan simbol, melainkan juga menampilkan berbagai persoalan. Adapun ke-4  makalah yang dimuat dalam Bunga Rampai Bhumi Wurawan ini meliputi :

  1. T.M. Rita Istari. Makalah yang ditampilkan berjudul “Kemungkinan Situs Ngurawan Sebagai Bekas Kerajaan Kuna”. Berdasarkan data arkeologi mengingatkan, hendaknya berhati-hati dalam meenentukan bekas kerajaan kuna, karena alsan faktor tertentu kerajaan kuno sering perpindah-pindah.
  2. Hery Priswanto, berjudul “Ragam Data Artefaktual Situs Ngurawan”. Makalah ini meyakini bahwa situs Ngurawan secara spesifik merupakan situs permukiman masa klasik, yaitu masa Majapahit. Berdasarkan survei arkeologi diperoleh pemahaman, bahwa tidak sedikit temuan tembikar wadah dalam berbagai bentuk seperti piring, mangkok, tempayan kendi, dll yang sebagaimana memperlihatkan ciri khas Majapahit.
  3. Aang Pambudi Nugroho, dalam makalahnya berjudul “Makna Toponim di Sekitar Kawasan Situs Ngurawan-Madiun”. Menyatakan toponim Ngurawan berasal dari kata “ur” artinya berangkat, pergi atau menghilang. Akhir penelitiannya, arkeologi ini berkesimpulan abad XIV-XV M nama “Wurawan” sudah tidak dikenal lagi. Nama tersebut tiba-tiba digantikan oleh “Wengker” sebagai wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit di barat Gunung Wilis di sekitar Bengawan Solo.
  4. Henki Riko Pratama, dkk, dalam artikelnya berjudul “Jejak-Jejak Tinggalan Bercorak Islam di Kabupaten Madiun”, ini berupaya mengungkapkan tinggalan arkeologis dari rentang waktu masa Kerajaan Demak hingga kedatangan bangsa asing di wilayah Madiun. Arkeologi ini berkesimpulan, di wilayah ini padat akan tinggalan arkeologi bercorak Islam yang belum tuntas diteliti dan digali.