SEMINAR PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA

SEMINAR PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA

“PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA MELALUI PENINGKATAN KESADARAN SEJARAH”

 

 

Dalam rangka membangun peradaban bangsa melalui pendidikan karakter generasi muda sebagai generasi penerus maka Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata melakukan kegiatan dalam bentuk seminar pembangunan karakter bangsa dengan tema “Pembangunan Karakter Bangsa melalui Peningkatan Kesadaran Sejarah pada 2-4 Mei 2011. Seminar yang merupakan bentuk usaha merespon gejala penurunan kualitas moral yang sedang dihadapi Bangsa Indonesia akibat kegagalan atau kelalaian pembentukan jati diri dan karakter bangsa.

Adapun pemilihan tema didasari atas pertimbangan bahwa pembangunan karakter bangsa dapat dilakukan melalui peningkatan kesadaran sejarah dengan cara belajar dari sejarah. Tentunya bukan sejarah konvensional berupa pengetahuan hapalan melainkan yang dapat memberikan pemahaman kontekstual atau menurut Prof. Susanto Zuhdi dinyatakan sebagai sesuatu yang memberikan kecerdasan sehingga melahirkan kemampuan analisis terhadap problematika kehidupan sosial. Ataupun seperti yang dinyatakan Dr. Asvi Warman Adam sebagai sejarah di mana kita dapat mengonsepsikan kehidupan dalam perjalanan waktu, yang mengajarkan kita sebuah cara untuk menentukan pilihan, untuk mempertimbangkan berbagai pendapat, yang dapat mempersatukan kita, yang mengajarkan budi pekerti karena menimbulkan sikap rendah hati dengan menghadapkan kita akan luasnya sejarah manusia, yang mengajarkan kita apa yang tidak dapat kita lihat. Sebab secara keseluruhan sejarah sendiri menyangkut persoalan kesinambungan dan perubahan yang daripadanya kita dapat belajar.

Seminar dirancang dalam bentuk diskusi yang melibatkan peserta dari siswa/i SMA, guru SMA, dan mahasiswa/i keguruan dan ilmu pendidikan tersebut menghasilkan suatu rumusan berikut.

1. Pendidikan karakter merupakan proses panjang suatu pembelajaran yang sifatnya terbuka, demokratis dan jujur, tidak bersifat doktriner.

2. Pendidikan merupakan salah satu wahana (vehicle) yang terbaik untuk melaksanakan pembentukan dan pembinaan karakter secara berkelanjutan dan berkesinambungan.

3. Sejarah merupakan sumber pengetahuan dan nilai-nilai masa lalu yang memberikan informasi tentang peristiwa-peristiwa, pelaku, peninggalan artefak. Nilai-nilai itu perlu dipahami, dikaji dan diambil hikmahnya, karenaberfungsi sebagai unsur pembangunan karakter.

4. Pelestarian nilai-nilai luhur dalam sejarah bangsa, tidak mungkin dilakukan bilamana generasi yang hidup di masa kini danmasa depan tidak mengenal dan memahami dengan baik hikmah dari nilai itu. Hal ini membutuhkan cara atau metode penyampaian yang prima, yang bisa diterima oleh generasi pewaris tersebut

5. Lembaga-lembaga yang credible (seperti Universitas, BPSNT, MSI dan sebagainya) harus melakukan transfer of knowledge dan transfer of value dengan melaksanakan kegiatan yang berkelanjutan.

6. Pengenalan dan pemahaman tentang sejarah lokal Kalimantan Barat oleh masyarakatnya akan membantu membangun semangat nasionalisme, percaya diri dan bangga menjadi bagian dari bangsa dan negara Indonesia

7. Pembentukan karakter bangsa memerlukanketeladanan dari mereka yang bisa dianggap sebagai panutan. Nilai-nilai keteladanan ini bisa didapatkan dengan mengenal dan memahami keteladanan tokoh-tokoh sejarah.