MENELUSURI JEJAK TRADISI DI TIMUR BORNEO

Pontianak - Mengajak generasi muda untuk mengenali budaya daerahnya menjadi salah satu tujuan dari diadakannya kegiatan Jejak Tradisi Daerah yang diadakan oleh BPNB Kalimantan Barat. Di tahun 2017, Jejak Tradisi Daerah (Jetrada) dihelat di bagian timur Borneo yaitu di kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur. Kegiatan yang diikuti oleh siswa-siswi dari SMA/SMK di kota Samarinda ini mengajak para siswa mengunjungi beberapa lokasi seperti Kedaton Koetai Kartanegara, Kampung Budaya Pampang, dan Galerry H. Fatmawati.

Kunjungan pertama dilakukan di Kedaton Koetai Kartanegara pada hari Jumat, 21 April 2017. Kedaton yang berjarak ± 1 jam dari kota Samarinda ternyata menjadi lokasi dimana mayoritas peserta belum pernah mengunjunginya. Oleh karena itu kunjungan ini menjadi kesempatan berharga bagi peserta. Di lokasi ini – dengan penjelasan dari narasumber Bapak H. Pangeran Kusumo Aryo Puger – peserta Jetrada belajar mengenai pakaian adat Kutai Kartanegara. Di antara penjelasan beliau, hal menarik yang menjadi perhatian peserta adalah wapan atau lencana terbuat dari emas yang digunakan di bagian peci serta koleksi baju-baju khas Kutai Kartanegara yang disimpan di lantai bawah Kedaton. Usai mengunjungi Kedaton Koetai Kartanegara, peserta diajak mengunjungi Museum Negeri Provinsi Kalimantan Timur Mulawarman. Museum yang letaknya tidak jauh dari Kedaton ini berisi karya budaya dan profil kekayaan alam dari provinsi ini. Koleksi keramik, senjata, peralatan tradisional, pakaian dan lain sebagainya bisa dipelajari di museum ini.

Dari Tenggarong – ibukota kabupaten Kutai Kartanegara -  perjalanan dilanjutkan ke Desa Pampang yang berada di Sungai Siring, kota Samarinda. Berjarak ± 1 jam dari Tenggarong, desa yang telah diresmikan sebagai desa wisata sejak tahun 1991 oleh gubernur Ardans memang memiliki daya tarik wisata dengan keunikan adat istiadat yang masih dijaga dan dikembangkan. Daya tarik tersebut diantaranya adalah Lamin atau rumah panjang dan kerajinan manik. Lamin dengan nama Lamin Adat Pemung Tawai ini, peserta Jetrada belajar mengenai arsitektur  dengan narasumber bapak Laing Along. Lamin Pemung Tawai dahulu merupakan rumah bersama orang Dayak Kenyah. Namun seiring dengan perkembangan jaman, rumah ini berubah fungsi dari rumah tinggal menjadi rumah untuk kegiatan-kegiatan budaya seperti atraksi tari, pertemuan dan lain sebagainya. Hal yang menarik dari lamin ini adalah keberadaan ukir-ukiran di dinding Lamin yang didominasi oleh warga kuning, hitam dan putih.

Selain Lamin, di desa budaya Pampang, peserta Jetrada juga diajak untuk mengenal kerajinan manik. Bagi masyarakat Dayak Kenyah, manik-manik tidak hanya digunakan sebagai perhiasan semata namun juga aksesori baju adat. Konon menurut catatan sejarah, manik-manik merupakan hasil pertukaran atau barter antara masyarakat Dayak dan China dahulu kala. Kini untuk mendapatkan manik-manik, tidak perlu barter karena manik-manik telah dijual bebas di toko-toko. Kerajinan manik sendiri kini sudah mengalami perkembangan dalam hal pengaplikasian bahan. Manik-manik tidak hanya digunakan sebagai perhiasan  dan aksesori baju semata namun telah diaplikasikan ke bentuk-bentuk lain seperti tas, taplak meja, peci, tempat tisu dan lain sebagainya. Tidak heran jika kerajinan manik ini kemudian menjadi salah satu produk khas Kalimantan Timur.

Sarung tenun Samarinda menjadi karya budaya yang dipelajari para peserta Jetrada di hari Sabtu, 22 April 2017. Salah satu wastra nusantara ini sebenarnya bukanlah karya budaya asli Kalimantan namun demikian karya budaya ini telah menjadi bagian dari karya budaya Kalimantan. Di lihat dari sisi sejarah, tradisi menenun sarung berasal dari suku Bugis yang berasal dari Wajo, Sengkang, Sulawesi Selatan. Mereka mendiami tepian sungai Mahakam – kini dikenal dengan nama Samarinda Seberang – dan mengembangkan tradisi tenun di sana. Konon sarung tenun Samarinda telah dikenal sejak abad 17. Tenun sarung Samarinda sendiri dibuat dengan dua jenis alat tenun bukan mesin yaitu Gedogan (alat tenun yang seluruh proses penenunnaya diikerjakan menggunakan tangan) dan alat tenun biasa (alat tenun terbuat dari kayu dan pada proses penenunan menggunakan tangan dan kaki) serta menggunakan benang “spoon silk” yang diimpor dari China. Tidak heran jika harga sarung tenun samarinda mencapai ratusan ribu rupiah. Tingginya harga ini disebabkan selain karena bahan baku juga proses pengerjaan yang cukup rumit dan memakan waktu lama. Meski harga jual mencapai ratusan rirbu per lembar namun sarung tenun samarinda tetap dicari sebagai kain khas dari timur Borneo. Hingga kini aktivitas menenun perempuan Bugis masih bisa dilihat di Samarinda Seberang dengan beragam jenis corak seperti corak rawa-rawa, garanso, burica, siparape, so’bi, pucuk, billa takajo, balo triolo, sari pengantin, corak datak dan corak kammumu atau yang lebih dikenal dengan hatta.

Sarung tenun corak hatta ternyata menjadi sumber inspirasi seniman tari dari sanggar Borneo Etnika di Samarinda untuk membuat tari kreasi yang berjudul tari Belang Hatta. Tari yang mengisahkan perjuangan hidup suku Bugis di tanah Kalimantan ini juga menjadi salah satu karya budaya yang dipelajari peserta Jetrada. Keberagaman tema yang dipelajari mulai dari budaya dayak dengan kerajinan manik dan arsitektur Lamin, budaya bugis dengan sarung tenun dan tari pesisir, serta pakaian adat kutai kartanegara memperlihatkan keberagaman budaya di timur Borneo.

Perjalanan mengenal budaya setempat selama dua hari diharapkan bisa menambah pengetahuan peserta sehingga mereka bisa lebih menghargai dan diharapkan turut serta dalam pelestarian dan pengembangan karya budaya selanjutnya. Menyusuri kembali jejak tradisi yang ada merupakan perjalanan mengenal budaya negeri. Kenali  selalu budayamu, cintai negerimu!! Adm

 

sumber : Nur Rahmawati, Nur Puji. 2010. Sarung Tenun Samarinda.