Mendulang Kisah, Memaknai Sejarah: Lawatan Sejarah Daerah Kalimantan Selatan 2017

Siapa tidak mengenal Pangeran Antasari? Pahlawan nasional yang kisahnya begitu melegenda ini seakan-akan mewakili Kalimantan Selatan dalam perjalanan kisah sejarah Indonesia. Pada pertengahan abad ke-19, Pangeran Antasari bersama dengan pimpinan daerah Hulu Sungai, Martapura, Barito, Pelaihari, Kahayan dan Kapuas mengadakan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Dari perlawanan ini terlihat bahwa berbagai kelompok etnis seperti Banjar, Kahayan, bakumpai dan lainnya bersatu tanpa melihat perbedaan diantara mereka. Kegigihannya melawan pemerintah colonial Hindia Belanda berakhir bersamaan dengan kematiannya karena penyakit paru dan cacar. Perjuangannya ini mengantarkan namanya menjadi nama Korem 101/Antasari dan diabadikan BI dalam uang rupiah.

Selanjutnya, tahukah kita bahwa masih banyak kisah-kisah sejarah yang terpendam di bumi Kalimantan  Selatan ini. Mengambil tema” Merajut Simpul-Simpul Sejarah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan dalam Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa”, BPNB Kalimantan Barat mencoba untuk  berbagi informasi kesejarahan untuk generasi muda bangsa. Mari kita gali satu persatu kisahnya.

Menuju ke Masjid Sultan Suriansyah atau dikenal pula sebagai Masjid Kuin. Menarik sekali ketika kita dapat memeroleh informasi sejarah politik, sejarah kebudayan Islam sekaligus belajar tentang arsitektur lokal di tempat ini. Masjid ini dikabarkan menjadi masjid tertua sekaligus bukti peninggalan Sultan pertama Kerajaan Banjar, Sultan Suriansyah. Sultan Suriansyah merupakan raja Islam pertama Kerajaan Banjar. Adapun arsitektur tradisional masjid ini kentara  pada konstruksi panggung dan atap tumpang. Penggunaan kayu ulin memperkokoh arsitektur masjid ini.  Makam Sultan Suriansyah berada tidak jauh dari tempat ini.

Masih tentang masjid, penghormatan masyarakat terhadap ulama terlihat pada Masjid Sabilal Muhtadin yang didirikan untuk mengenang ulama besar Banjar Syech Muhammad Arsyad al Banjari. Nama masjid ini diambil  dari nama kitab hukum fikih yang ditulisnya.

Selanjutnya, mari kita menuju Martapura. Intan dan batu mulia lain pasti menjadi hal pertama yang terlintas di benak kita mendengar nama tempat ini. Intan telah tersebut dalam Hikayat Banjar sebagai pemberian Patih Lambung Mangkurat kepada Pangeran Surianata.  Selanjutnya, pertambangan intan bersama penanaman lada dan pertambangan batubara menjadi objek eksploitasi pemerintah kolonial Hindian Belanda untuk  mengisi kas Negara. Pertambangan intan di Martapura dan sekitarnya sampai saat ini masih terus bertahan dengan segala kearifan lokalnya baik dari jenis pendulangannya, unsur matra dan pamali, orang-orang yang terlibat dalam proses pendulangan intan, serta sistem distribusi dan bagi hasil.

Nah… itulah sekilas kisah pada Lawatan Sejarah Daerah di Kalimantan Selatan. Semoga dengan lawatan ini generasi muda mampu lebih mudah memahami dan memaknai arti sejarah daerah yaaa…(AR admin)