DINAMIKA WUJUD KEBUDAYAAN DAN PENULISAN ILMIAH:CATATAN DARI KEGIATAN SEMINAR PROPOSAL

Buku “Pengantar Antropologi” karangan Koentjaraningrat selama ini menjadi pegangan bagi siapa saja yang belajar mengenai kebudayaan. Dalam ranah budaya – merujuk pada Koentjaraningrat – dikenal 3 wujud budaya yaitu ide atau gagasan, perilaku atau aktivitas serta material (berwujud benda). Masih tepatkah tiga wujud kebudayaan ini? Jawabannya adalah tidak. Menurut Prof Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa, MA, M. Phil, - Guru Besar Antropologi Budaya  Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajahmada Yogyakarta – wujud kebudayaan seharusnya empat yaitu gagasan, bahasa, perilaku, dan material. Bahasa menjadi salah wujud kebudayaan karena jika ditelisik lebih lanjut, gagasan - sebagai salah  satu wujud budaya - tidak muncul begitu saja. Gagasan terbentuk lewat bahasa. Mantera, istilah-istilah dalam ritual semuanya terkait dengan bahasa atau diungkapkan dengan bahasa. Oleh karena itu pemahaman bahasa daerah menjadi hal yang penting.

Dalam bidang penelitian, bahasa bukanlah domain ilmu linguistik semata. Oleh karena itu, seharusnya penelitian di bidang kebudayaan juga memperhatikan bahasa sebagai salah satu wujud kebudayaan. Di ranah kebudayaan sendiri, bahasa merupakan unsur penting bahkan bisa dikatakan sebagai  pondasi dari kebudayaan itu sendiri. Tanpa bahasa, komunikasi tidak akan terjalin. Selama ini aspek bahasa sering dilupakan dalam penelitian. Kemampuan menguasai bahasa lokal – bahasa di lokasi penelitian – sangat penting karena berimplikasi pada metodologi. Biasanya dalam melakukan pengumpulan data, peneliti menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan informan. Namun harus disadari bahwa dalam penelitian terkadang muncul istilah-istilah lokal yang memiliki makna yang bersifat kontekstual dan susah mendapatkan padanan kata dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu pemahaman dan penguasaan  bahasa lokal/daerah menjadi hal penting untuk dikuasai oleh seorang peneliti.

            Perbedaan kedua konsep wujud kebudayaan tersebut merupakan bagian dari perkembangan pengetahuan yang memang selalu dinamis. Bahasa memang menjadi aspek penting dalam sebuah penelitian. Istilah lokal beserta definisinya penting untuk  untuk dipahami karena mengandung konteks  lokalitas. Pengetahuan dan penguasaan bahasa lokal menjadi sebuah pekerjaan rumah bagi para peneliti yang benar-benar ingin memahami masyarakat yang ditelitinya.

Tentang Penulisan Ilmiah Bidang Kebudayaan

Dalam penulisan proposal penelitian, ada beberapa catatan penting yang seringkali dilupakan. Pertama, terkait dengan tema. Tema sebuah tulisan biasanya bukanlah sebuah tema baru. Bisa jadi tema tersebut baru di suatu lokasi namun tidak baru di lokasi lain. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk menghubungkan antara penelitian yang dilakukan dengan penelitian yang pernah dilakukan. Upaya menghubungkan tersebut memperlihatkan wawasan luas si peneliti dan – secara substansi – memperlihatkan adanya relevansi dengan penelitian lain yang telah dilakukan.

Kedua, pemilihan topik. Pemilihan topik bisa berlandaskan pada tiga hal yaitu relevansi teoritis, aktualitas dan praktis. Pemilihan topik bisa dilakukan karena ada alasan teoritis yang penting. Topik juga bisa dipilih berdasarkan aktualitas. Topik yang aktual bisa dilihat dari surat kabar atau pada sesuatu yang banyak dibicarakan orang. Informasi dari surat kabar bahkan bisa digunakan sebagai sumber jika relevan. Jika berdasarkan aktualitas maka hasil penelitian akan memiliki relevansi yang aktual dengan situasi di suatu lokasi. Selain karena relevansi teoritis dan aktualitas, pemilihan topik juga bisa berdasarkan alasan praktis. Alasan praktis adalah apa yang dikerjakan nantinya akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan sesuatu yang bermanfaat ini bukan berarti sesuatu yang belum pernah diteliti sama sekali namun bisa saja belum memberikan manfaat seperti yang diharapkan. Oleh karena itu, hal ini bisa dijadikan sebagai alasan sehingga hasil penelitian ini akan bersifat praktis.    

Ketiga, terkait dengan tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka bermanfaat untuk membuat sebuah tulisan relevan secara teoritis. Tinjauan pustaka memiliki fokus pada kerangka teori. Jika menulis tinjauan pustaka, maka seluruh pustaka yang digunakan perlu diklasifikasi. Dalam melakukan tinjauan pustaka, maka seorang peneliti harus membaca pustaka tersebut dan kemudian meninjaunya. Meninjau pustaka harus dilakukan secara kritis yaitu dengan mengidentifikasi kerangka teori yang digunakan apakah menggunakan kerangka historis, fungsional, strukturalis, dan lain sebagainya dan kemudian mengkritisinya apabila teori yang digunakan tidak sesuai dengan harapan atau dengan kata lain bersikap kritis yaitu bisa melihat kekurangan dan kelebihan suatu tulisan. Seperti halnya obat Obat tidak bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Suatu obat hanya digunakan untuk mneyembuhkan penyakit tertentu saja. Sama halnya dengan teori, tidak ada kerangka teori yang sempurna untuk menjawab semua permasalahan.

Tinjauan pustaka sebaaiknya tidak dilakukan perjudul namun perlu pengelompokan pustaka-pustaka tersebut sehingga lebih mudah dalam mengkritisinya. Salah satu hal yang sulit dilakukan adalah memetakan pustaka-pustaka tersebut. Namun hal ini bisa diatasi dengan berdiskusi dan dengan melihat dari kata-kata kunci yang digunakan. Setelah pemetaaan paradigma yang digunakan maka peneliti bisa mengembangkan kerangka teori. Dalam kerangka teori minimal terdapat kata-kata kunci yang dipakai dalam penjelasan. Peneliti perlu menjelaskan beberapa definisi istilah yang penting karena tanpa adanya definisi istilah tersebut peneliti tidak akan mengetahui bagaimana atau apa yang digali dari penelitiannya.

Keempat, mengenai etodologi. Metodologi dibedakan menjadi dua yaitu metode pengumpulan data dan metode analisis data. Metode pengumpulan data adalah proses mengumpulkand ata di lapangan atau melalui studi pustaka sedangkan metode analisis data adalah proses mengolah data. Untuk menganalisis data perlu pemhaman terhadap latar belakang dari emtode-metode yang digunakan. Jika tidak memahami dengan baik maka data yang sudah terkumpul akan sulit untuk menganalisis dan mengintepretasikannya.

Dalam penulisan ilmiah seringkali terjadi kesalahan dalam menyebut suatu pendekatan. Biasanya orang menggunakan istilah pendekatan kualitatif atau kuantitatif. Hal ini tidak benar karena tidak ada pendekatan seperti itu karena pendekatan itu berkaitan dengan kerangka teori. Pendekatan bisa saja historis, strukturalis, fungsional,  atau bisa juga  evolusionistis karena ada teorinya. Namun yang disebut kualitatif dan kuantitatif  adalah data. Jadi data lah yang bersifat kualitatif dan kuantitatif,  bukan penelitiannya. Sebenarnya tidak perlu ada pembedaan antara kuantitatif atau kualitatif karena tujuan penelitian adalah untuk menjawab pertanyaan. Sebagai contoh data kuantitatif tidak selalu harus survey karena bisa saja data tersebut diperoleh melalui wawancara, peneliti tidak hanya mendapatkan data kualitatif namun juga data kualitatif jika informan tersebut mampu menyediakan data yang dibutuhkan. Oleh karena itu untuk mendapatkan data kuantitatif dan kualitatif terkait dengan metode apa yang dipakai apakah studi pustaka, pengamatan, wawancara, dan Focus Group Discussion dan lain sebagainya. Metodologi sebenarnya terkait dengan studi pustaka, pengamatan, wawancara, FGD sehingga peneliti perlu menguasai metodologi dengan baik.

            Pembahasan materi penulisan di seminar proposal menjadi catatan penting bagi para peneliti atau pihak-pihak lain yang ingin menyusun karya tulis ilmiah. Selain itu dinamika wujud kebudayaan yang selama ini seolah “paten (3 wujud) - ” ternyata juga mengalami perubahan dan hal ini memperlihatkan bagaimana pengetahuan tentang kebudayaan akan selalu berkembang.

Oleh : Yusri Darmadi dan Septi Dhanik (ed)