Alat Musik Tangkurung

Provinsi: 
Kalimantan Tengah

Tangkurung, adalah nama sebuah alat musik tradisional yang berasal dari Kalimantan Tengah. Alat musik ini digunakan pada saat pelaksanaan upacara adat. Tangkurung dibuat dari bahan sambungan bilah bambu memanjang.

alat musik tradisional Kalteng

Cara pembuatannya adalah:

Tangkurung dibuat dengan menyambung tiga bagian bamboo yang berbeda jenis. Pada bagian paling bawah sebagai tumpuan dipasang kayu Ulin (kayu besi) atau dalam bahasa setempat disebut Tabalien. Selain menggunakan kayu tabalien sebagai tumpuan dapat juga menggunakan jenis kayu keras dan kuat yang lain. Pembuatan Tangkurung dilakukan oleh mereka yang memang sudah terampil namun dengan peralatan yang sederhana. Tangkurung masih dimainkan hingga kini di Tanah Siang baik dalam kegiatan pada musim tanam padi maupun pada acara penyambutan tamu kehormatan. Tangkurung dapt dipadukan dengan tari-tarian seperti tari manasai atau bahkan untuk mengiringi seni Karungut

Bagian dan ciri*:

Tangkurung biasanya terdiri atas empat buah yang dimainkan bersama-sama. Dengan demikian, alat musik ini harus dimainkan oleh empat orang. Kalau kurang, nadanya menjadi tidak terlalu bagus. Setiap bilah Tangkurung, mengeluarkan intonasi nada yang berbeda, sehingga saat dimainkan bersama mampu menghasilkan paduan nada-nada perkusi yang sinergis , menyatu antara satu dengan yang lainnya.

Untuk dapat memainkan alat musik ini perlu latihan. Bagi yang belum tahu sama sekali mungkin perlu waktu hingga empat bulan. Tapi bagi yang mudah memahami paduan suaranya bisa lebih cepat dari itu. Di Tanah Siang, anak-anak kecilpun terampil memainkan Tangkurung. Alat musik ini lahir sebagai manifestasi dari sukacita masyarakat Tanah Siang saat kegiatan manugal atau menanam benih di sawah. Bentuknya mengadopsi bilah tugal yang di dalam aktivitas bertani digunakan membuat lubang di sawah untuk menabur benih pareh alias beras. Karena itu, Tangkurung dimainkan dengan cara menghentakkannya ke tanah.

Meskipun demikian, sumber suara unik yang keluar dari Tangkurung justru muncul dari turbelensi angin di bagian paling atas Tangkurung yang memang dibuat menganga. Bagian itu pula yang dibuat dengan diameter serta ukuran panjang berbeda sehingga menghasilkan nada berbeda pula.

Sumber data:

Haryanto, 2015. Musik Suku Dayak. Sebuah Catatan Perjalanan di Pedalaman Kalimantan. Yogyakarta: Badan Penerbit ISI.

Penginput data: Neni Puji Nur Rahmawati